JAMBI — Jakarta — Operasi besar-besaran merampingkan BUMN mulai berjalan. Danantara, yang kini memegang kendali investasi negara, mengincar penghematan langsung Rp50 triliun per tahun dengan cara memangkas jumlah entitas BUMN yang saat ini mencapai 1.077 perusahaan. Targetnya, jumlah itu ditekan drastis menjadi sekitar 200-300 perusahaan pada tahun ini.
Yang menarik, di tengah rencana pemangkasan jumlah perusahaan yang masif itu, Danantara menjamin tidak ada satu pun pekerja yang akan kehilangan pekerjaan. Kepastian ini disampaikan langsung oleh Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, di Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Keputusan mempertahankan semua karyawan bukan tanpa perhitungan. Dony mengungkapkan, manajemen telah menghitung total biaya tenaga kerja dari perusahaan-perusahaan yang akan dirampingkan. Hasilnya, angka itu hanya berkisar Rp2-3 triliun per tahun.
"Kalau dari perusahaan-perusahaan yang kita streamlining ini, berapa sih biaya tenaga kerjanya setahun? Ternyata cuma Rp2–3 triliun," jelas Dony.
Dengan perbandingan itu, Danantara memilih untuk mengambil alih seluruh karyawan ke perusahaan hasil konsolidasi. Langkah ini dinilai lebih manusiawi dan tetap menguntungkan secara finansial. "Jadi saya berpikir, kalau gitu saya ambil saja semua karyawannya, saya masih hemat Rp47 triliun," tegasnya.
Dony menambahkan, Presiden Prabowo Subianto juga secara khusus menekankan agar tidak ada PHK dalam proses restrukturisasi ini. "Pastinya Bapak Presiden tidak ingin ada PHK," kata Dony.
Dari mana angka penghematan Rp50 triliun itu berasal? Dony menjelaskan, selama ini banyak BUMN yang memiliki struktur perusahaan berlapis-lapis — dari induk, anak usaha, cucu usaha, hingga cicit perusahaan. Praktik ini menyebabkan inefisiensi besar akibat transaksi internal yang berulang.
"Selama ini kita membiasakan layering transaction antara induk ke anak-anak, ke cucu-cucu, ke cicit, yang menyebabkan inefisiensi. Kurang lebih inefisiensinya itu Rp30 triliun," paparnya.
Danantara sudah mulai bergerak. Contoh konkret adalah merger tiga entitas di grup Pertamina: PT Pertamina Patra Niaga, Kilang Pertamina Internasional, dan Pertamina International Shipping (PIS). Hasilnya, penghematan langsung mencapai 600-700 juta dolar AS.
Praktik serupa juga ditemukan di lingkungan Telkom Group. Dony mencontohkan, proyek pembangunan jaringan serat optik harus melewati beberapa lapis perusahaan sebelum dieksekusi, sehingga menimbulkan biaya tambahan yang tidak perlu.
Dony menegaskan, seluruh tenaga kerja dari perusahaan yang dirampingkan akan dialihkan menjadi bagian dari perusahaan hasil konsolidasi. Tidak ada satu pun yang akan dikurangi. "Karena itu kan bukan salah mereka," ujarnya.
Jika seluruh proses selesai, Danantara optimistis bisa mengantongi penghematan langsung Rp50 triliun per tahun, tanpa harus menunggu peningkatan profitabilitas dari perusahaan-perusahaan hasil merger. "Di depan mata kita ada Rp50 triliun," pungkas Dony.