JAMBI — Luas lahan terbakar di Provinsi Jambi terus bertambah seiring masuknya puncak musim kemarau. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi mencatat total area yang hangus hingga akhir Juli 2026 telah menembus angka 222 hektare.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jambi, Bachyuni Deliansyah, mengungkapkan kebakaran tersebar di enam kabupaten. Titik terbanyak berada di Muaro Jambi, Batanghari, Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, Tebo, dan Merangin.
Kecamatan Kumpeh dan Rantau Panjang di Kabupaten Muaro Jambi menjadi wilayah paling sering dilanda kebakaran. Disusul Kecamatan Betara di Tanjung Jabung Barat serta Geragai di Tanjung Jabung Timur.
Bachyuni memastikan seluruh kejadian sejauh ini masih bisa dikendalikan. Kecepatan petugas di lapangan menjadi kunci agar api tidak merembet ke kawasan lain.
Untuk memperkuat penanganan, BPBD mengoperasikan 81 posko siaga karhutla di berbagai titik rawan. Posko ini berfungsi sebagai pusat patroli, deteksi dini, sosialisasi, hingga pemadaman awal.
Data satelit menunjukkan jumlah hotspot di Provinsi Jambi mendekati 2.000 titik. Namun Bachyuni mengingatkan tidak semua hotspot merupakan api.
"Semua hotspot kami cek di lapangan. Kalau hari ini muncul sekitar 30 titik, semuanya dipastikan apakah benar terdapat api atau hanya pantulan panas," katanya, Jumat (31/7/2026).
Kebakaran di kawasan gambut paling banyak ditemukan di Kecamatan Rantau Panjang dan Air Merah, Muaro Jambi, serta sejumlah lokasi di Tanjung Jabung Timur. Sementara di Kecamatan Betara, Tanjung Jabung Barat, api melahap area perbukitan.
Kondisi lahan yang sulit dijangkau dan minim sumber air membuat pemadaman darat kerap terkendala. BPBD pun berkoordinasi dengan tim udara untuk membantu pemadaman dari langit.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menempatkan satu unit pesawat Cassa di Jambi. Armada ini digunakan untuk patroli udara sekaligus Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) apabila kondisi atmosfer memungkinkan.
Musim kemarau diperkirakan berlangsung hingga akhir September bahkan bisa berlanjut sampai Oktober. Potensi karhutla masih tinggi selama periode tersebut.
BPBD mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar maupun membuang puntung rokok sembarangan. Kondisi kemarau yang sangat kering membuat api kecil cepat membesar.
"Sekecil apa pun api, dalam kondisi kemarau yang sangat kering seperti sekarang bisa berkembang menjadi kebakaran besar. Pencegahan adalah langkah paling efektif untuk melindungi hutan, lahan, dan masyarakat dari bencana karhutla," tutup Bachyuni.