JAMBI — Menteri Kebudayaan Fadli Zon memaparkan arah kebijakan pemerintah dalam melindungi kebudayaan nasional di tengah derasnya arus globalisasi. Hal itu ia sampaikan saat memberikan kuliah umum bertema "Pemajuan Kebudayaan dalam Perspektif Ekonomi Budaya" di hadapan mahasiswa Universitas Jambi, Jumat (31/7/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Graha Singedekane, Telanaipura, Jambi, itu juga dihadiri Rektor Universitas Jambi Helmi dan Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jambi Yanto Manurung.
Fadli Zon menekankan bahwa kebudayaan tidak hanya soal warisan masa lalu, tetapi juga aset ekonomi yang bisa dikelola secara produktif. Menurut dia, proses penciptaan kembali identitas Indonesia harus berangkat dari keilmuan, bukan sekadar romantisme sejarah.
Dalam paparannya, Fadli Zon menguraikan sejumlah langkah pemerintah dalam memperkuat ekosistem kebudayaan. Salah satu poin yang ia sorot adalah pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi.
Ia menilai universitas memiliki peran strategis sebagai pusat riset dan pengembangan kebudayaan. "Kebudayaan harus dikelola dengan pendekatan akademik agar tidak tergerus zaman," kata Fadli Zon dalam kesempatan tersebut.
Menteri Kebudayaan juga menyoroti potensi ekonomi yang bisa lahir dari sektor kebudayaan. Menurutnya, daerah seperti Jambi memiliki kekayaan budaya yang bisa dikapitalisasi menjadi produk ekonomi kreatif.
Fadli Zon menyebut bahwa pemajuan kebudayaan harus berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat. Ia mendorong mahasiswa untuk aktif menggali potensi budaya lokal dan mengemasnya menjadi nilai tambah ekonomi.
Kuliah umum ini menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk mendekatkan kebijakan kebudayaan dengan dunia akademik. Kehadiran Kepala BPK Jambi Yanto Manurung juga dinilai penting untuk menjembatani program pusat dengan pelestarian budaya di tingkat lokal.