JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat pada Jumat sore, ditopang aksi beli di sektor infrastruktur dan barang baku. Indeks acuan saham nasional ini melesat 65,94 poin atau 1,04 persen ke level 6.409,65, sementara indeks LQ45 yang memuat 45 saham unggulan ikut menguat 1,49 persen ke posisi 640,29.
Penguatan terjadi di tengah sikap wait and see pelaku pasar terhadap rilis data Non-Farm Payroll (NFP) Amerika Serikat yang dijadwalkan keluar Jumat (07/08) waktu setempat. Data tersebut menjadi indikator utama bagi bank sentral AS, The Fed, dalam menentukan langkah kebijakan moneternya ke depan.
Di kawasan Asia, mayoritas bursa saham bergerak beragam. Indeks Nikkei melemah 0,07 persen, sedangkan Shanghai, Hang Seng, dan Straits Times tercatat menguat. Kondisi ini dipengaruhi eskalasi ketegangan di Timur Tengah yang kembali memicu kekhawatiran inflasi global.
Laporan serangan Iran di Selat Hormuz serta upayanya membatasi kapal-kapal AS dan Israel membuat jalur pelayaran krusial tersebut belum sepenuhnya pulih. Imbasnya, harga minyak dunia merangkak naik dan menghidupkan kembali spekulasi kenaikan suku bunga The Fed.
"Hal ini tentunya membuatkan harga minyak dunia dan ketegangan yang kembali memicu kekhawatiran tentang inflasi dan prospek suku bunga ke depannya," ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus alias Nico dalam kajiannya di Jakarta, Jumat.
Dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati posisi cadangan devisa Indonesia yang tercatat sebesar 145,3 miliar dolar AS pada akhir Juli 2026. Angka ini sedikit menurun dibandingkan posisi akhir Juni 2026 yang mencapai 145,6 miliar dolar AS.
Nico menilai kondisi tersebut tetap solid. Cadangan devisa setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
"Hal ini menunjukkan bahwa cadangan devisa tetap terjaga dan mampu mendukung ketahanan sektor eksternal, serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," kata Nico.
Faktor lain yang dinanti investor adalah pengumuman calon Gubernur BI definitif oleh pemerintah pekan ini. Figur yang terpilih akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga dan stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika ekonomi global.
"Penunjukan figur yang memiliki kredibilitas tinggi dan dinilai mampu menjaga independensi BI berpotensi meningkatkan kepercayaan pasar, sementara ketidakpastian yang berkepanjangan dapat mendorong sikap wait and see dari pelaku pasar," ujar Nico.
Dari 11 sektor indeks IDX-IC, sembilan sektor berhasil ditutup di zona hijau. Sektor infrastruktur menjadi pendorong utama dengan kenaikan 2,06 persen, diikuti sektor barang baku yang naik 1,59 persen dan barang konsumen primer yang menguat 1,15 persen.
Sebaliknya, sektor barang konsumen non primer dan sektor kesehatan menjadi pemberat dengan koreksi masing-masing 0,91 persen. Adapun saham-saham yang memimpin penguatan antara lain VOKS, ROCK, KBLV, MCAS, dan ISAT, sedangkan TALF, PDES, dan BACH tercatat mengalami pelemahan.
Total frekuensi perdagangan saham mencapai 2.192.000 kali transaksi dengan volume 36,88 miliar lembar saham senilai Rp16,44 triliun. Sebanyak 373 saham berhasil naik, 245 saham melemah, dan 345 saham stagnan hingga penutupan perdagangan.