Ekspor Industri Pengolahan Tembus 82% dari Total Ekspor Semester I 2026, Tiongkok Pasar Terbesar

Penulis: Said Fauzi  •  Minggu, 09 Agustus 2026 | 08:36:01 WIB
Petugas memeriksa kontainer berisi produk industri pengolahan di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (6/8/2026).

JAMBI — Kementerian Perdagangan mencatat total ekspor Indonesia pada Januari–Juni 2026 mencapai 140,81 miliar dollar AS, meningkat 4,13 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini ditopang ekspor nonmigas yang naik 4,90 persen menjadi 134,58 miliar dollar AS.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut penguatan ekspor nonmigas membuktikan daya saing produk Indonesia tetap terjaga di tengah perlambatan ekonomi global. "Pemerintah akan terus memperluas akses pasar, memperkuat promosi dagang, serta mengoptimalkan berbagai perjanjian perdagangan agar kinerja ekspor terus meningkat," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (6/8/2026).

Hilirisasi Nikel dan Aluminium Jadi Mesin Pertumbuhan Ekspor

Komoditas berbasis hilirisasi mendominasi pertumbuhan ekspor nonmigas. Ekspor aluminium dan barang daripadanya (HS 76) melonjak 73,93 persen pada Semester I 2026, disusul nikel dan barang daripadanya (HS 75) yang tumbuh 62,27 persen. Bahan kimia organik (HS 29) naik 31,93 persen, sementara tembaga dan barang daripadanya (HS 74) meningkat 29,03 persen.

Kinerja sektor industri pengolahan kontras dengan sektor lainnya. Ekspor pertanian justru terkontraksi 22,55 persen menjadi 2,59 miliar dollar AS, ekspor migas turun 10,11 persen menjadi 6,23 miliar dollar AS, dan sektor pertambangan menyusut 5,12 persen menjadi 16,49 miliar dollar AS.

Kinerja Juni 2026: Ekspor Naik 9,72 Persen Secara Bulanan

Pada Juni 2026, nilai ekspor Indonesia tercatat 25,46 miliar dollar AS, meningkat 9,72 persen dibandingkan Mei 2026 dan naik 8,84 persen secara tahunan. Ekspor nonmigas pada bulan tersebut mencapai 24,39 miliar dollar AS, tumbuh 8,68 persen secara bulanan dan 9,46 persen secara tahunan.

"Pertumbuhan ekspor pada Juni menjadi sinyal positif memasuki Semester II 2026. Kami akan terus memperkuat penetrasi ke pasar-pasar utama sekaligus membuka peluang di pasar nontradisional agar ekspor Indonesia semakin berkelanjutan," kata Budi.

Tiongkok Kuasai 25,68 Persen Pangsa Pasar Ekspor Nonmigas

Dari sisi pasar tujuan, Tiongkok tetap menjadi tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia dengan nilai 34,56 miliar dollar AS atau berkontribusi 25,68 persen. Amerika Serikat menyusul dengan 15,82 miliar dollar AS dan India 9,25 miliar dollar AS.

Pertumbuhan ekspor nonmigas tertinggi tercatat ke Hong Kong yang melonjak 39,12 persen, disusul Kamboja 31,42 persen, dan Thailand 19,35 persen. Kawasan Asia Tengah, Asia Timur, Afrika Barat, Eropa Timur, dan Afrika Selatan juga mencatat kinerja positif.

Surplus Nonmigas Rp 19,35 Miliar AS Menutup Defisit Migas

Neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus 3,58 miliar dollar AS secara kumulatif pada Semester I 2026. Surplus tersebut ditopang perdagangan nonmigas sebesar 19,35 miliar dollar AS, sementara sektor migas mencatat defisit 15,77 miliar dollar AS.

Pada Juni 2026, surplus perdagangan nonmigas mencapai 3,04 miliar dollar AS dan mampu mengimbangi defisit migas sebesar 3,49 miliar dollar AS. Alhasil, defisit neraca perdagangan bulanan hanya tercatat 450 juta dollar AS.

Data ini menunjukkan struktur ekspor Indonesia semakin bertumpu pada produk manufaktur bernilai tambah tinggi. Namun, kontraksi tajam di sektor pertanian menjadi catatan tersendiri yang perlu diwaspadai pemerintah dalam enam bulan ke depan.

Reporter: Said Fauzi
Sumber: money.kompas.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top