Endometriosis dan Kehamilan: Fakta soal Saran Cepat Hamil yang Perlu Ibu Tahu

Penulis: Amrizal Halim  •  Kamis, 13 Agustus 2026 | 08:14:32 WIB
Sejumlah pasien endometriosis di Selandia Baru melaporkan pernah menerima saran untuk segera hamil sebagai upaya meredakan gejala.

JAMBI — Anggapan bahwa perempuan dengan endometriosis harus segera hamil masih beredar luas, bahkan di kalangan tenaga medis. Sebuah survei terhadap lebih dari 600 pasien endometriosis di Selandia Baru menemukan, sekitar sepertiga responden pernah menerima saran tersebut. Padahal, benarkah kehamilan bisa menjadi solusi untuk mengatasi penyakit ini?

Kehamilan Bukanlah Pengobatan untuk Endometriosis

Endometriosis adalah kondisi kronis di mana jaringan mirip lapisan rahim tumbuh di luar rahim. Jaringan ini dipengaruhi hormon dan bisa memicu peradangan, nyeri, serta perlengketan di area panggul.

Saat hamil, siklus menstruasi berhenti sementara dan terjadi perubahan hormonal. Hal ini memang bisa membuat sebagian perempuan merasakan gejalanya berkurang. Namun, berkurangnya gejala bukan berarti penyakitnya sembuh.

“Kehamilan bukanlah pengobatan untuk endometriosis. Keputusan untuk memiliki anak adalah hal yang sangat pribadi dan seharusnya tidak dijadikan sebagai rencana terapi,” tegas Kepala Eksekutif Endometriosis New Zealand, Tanya Cooke, dilansir RNZ. Ia menambahkan, tidak ada tenaga medis yang seharusnya menyarankan seseorang hamil semata-mata demi meredakan gejala.

Fakta: Lesi Endometriosis Tidak Hilang karena Hamil

Poin penting dari penelitian yang dilakukan Endometriosis New Zealand bersama University of Canterbury ini adalah kehamilan tidak terbukti mengecilkan atau mengurangi jumlah lesi endometriosis. Data survei menunjukkan, hanya 51,3 persen pasien yang mencoba hamil sebagai cara mengurangi gejala melaporkan adanya perbaikan. Artinya, hampir separuh pasien tidak merasakan perubahan signifikan.

Menjadikan kehamilan sebagai strategi pengobatan dinilai bermasalah, terutama jika saran ini diberikan kepada perempuan muda atau mereka yang belum siap memiliki anak. Beban emosional pun semakin berat karena endometriosis sendiri kerap dikaitkan dengan gangguan kesuburan.

Lalu, Apakah Endometriosis Membuat Sulit Hamil?

Endometriosis memang dapat memengaruhi kesuburan, tetapi tidak semua perempuan dengan kondisi ini akan mengalami infertilitas. Peradangan dan perlengketan bisa mengganggu fungsi ovarium dan saluran telur, sehingga menghambat proses pembuahan.

Bagi ibu yang memang berencana memiliki anak, diskusikan rencana ini dengan dokter sejak dini. Dokter akan mempertimbangkan berbagai faktor seperti kondisi penyakit, usia, cadangan ovarium, hingga riwayat operasi. Tujuannya bukan untuk terburu-buru hamil karena takut penyakit, melainkan untuk menyusun strategi yang tepat.

Merencanakan Kehamilan yang Sehat dengan Endometriosis

American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) menyebutkan, pilihan pengobatan endometriosis perlu mempertimbangkan keinginan pasien untuk memiliki anak. Pada kondisi tertentu, operasi bisa menjadi pilihan untuk mengangkat jaringan endometriosis dan meningkatkan peluang kehamilan.

Namun, tindakan ini tidak selalu diperlukan. Keputusan terapi sebaiknya dibahas bersama dokter spesialis, dengan mempertimbangkan kondisi penyakit, gejala, dan tujuan reproduksi masing-masing. Kehamilan tetap bisa direncanakan dengan baik, tetapi bukan sebagai “obat”, melainkan sebagai keputusan sadar akan kesiapan fisik dan mental.

Kapan Harus Konsultasi ke Dokter?

Jika Anda di

Reporter: Amrizal Halim
Sumber: haibunda.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top