JAMBI — Penerbangan domestik di Indonesia selama ini identik dengan mode pesawat yang wajib aktif dan hiburan seadanya. Garuda Indonesia mencoba mengubah pengalaman itu lewat uji coba high speed inflight connectivity yang digelar bertepatan dengan perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Dalam uji coba tersebut, pembacaan Naskah Proklamasi disiarkan langsung melalui konektivitas internet di dalam pesawat dan diperdengarkan lewat public address system.
Sebanyak 81 penumpang pada penerbangan GA-XX mendapat akses khusus untuk mencoba layanan ini. Angka tersebut sengaja dipilih untuk merepresentasikan 81 tahun Indonesia merdeka. Mereka bisa mengakses internet berkecepatan tinggi, termasuk melakukan panggilan video, sesuatu yang selama ini mustahil dilakukan di ketinggian jelajah pesawat.
Direktur Utama Garuda Indonesia Glenny Kairupan menyebut inovasi ini bagian dari transformasi layanan maskapai nasional. "Transformasi Garuda Indonesia tidak hanya berfokus pada penguatan fundamental bisnis dan operasional, tetapi juga bagaimana transformasi tersebut dapat dirasakan langsung melalui pengalaman perjalanan yang semakin relevan bagi pengguna jasa," jelasnya dalam keterangan resmi, Rabu.
Uji coba ini bukan sekadar pamer teknologi. Garuda Indonesia akan mengevaluasi beberapa aspek sekaligus: performa konektivitas, pengalaman pengguna, kesiapan operasional, aspek keselamatan, hingga kepatuhan terhadap regulasi penerbangan. Ini penting karena internet di pesawat punya kompleksitas berbeda dibanding jaringan darat — interferensi dengan sistem navigasi jadi perhatian utama otoritas penerbangan.
Pertanyaan terbesar yang belum terjawab dari uji coba ini: seberapa stabil koneksi saat pesawat melewati area terpencil, dan bagaimana sistem ini bekerja saat cuaca buruk? Sayangnya, Garuda belum merilis data teknis detail seperti bandwidth per penumpang atau teknologi yang digunakan — apakah berbasis satelit GEO, LEO, atau air-to-ground.
Garuda Indonesia memproyeksikan layanan ini baru diterapkan secara bertahap mulai 2027. Artinya, masih ada jeda lebih dari dua tahun dari uji coba pertama. Alasannya klasik: kesiapan armada dan teknologi pendukung. Maskapai perlu memasang perangkat keras di setiap pesawat, menguji ulang sertifikasi, dan memastikan sistem tidak mengganggu avionik pesawat.
Ini juga soal biaya. Memasang sistem konektivitas satelit di satu armada bisa memakan biaya miliaran rupiah per unit, plus biaya langganan bandwidth yang tidak murah. Garuda Indonesia yang baru saja pulih dari restrukturisasi utang tentu harus menghitung matang investasi ini.
Pengembangan layanan digital ini berjalan paralel dengan upaya Garuda menarik wisatawan mancanegara. Maskapai pelat merah ini meluncurkan program Free Domestic Flight yang menyediakan 170.845 kursi penerbangan domestik gratis bagi wisman pemegang tiket internasional pulang-pergi Garuda Indonesia. Kepala Pemasaran Grup Garuda Indonesia Prina Eka Putri menargetkan wisman tidak hanya berhenti di Bali atau Jakarta, tapi melanjutkan perjalanan ke destinasi domestik lain.
Beberapa catatan penting dari pengumuman ini:
Uji coba ini langkah positif, tapi Garuda harus membuktikan bahwa layanan ini bisa berjalan konsisten di seluruh rute, bukan hanya penerbangan seremonial. Sampai 2027, penumpang masih harus bersabar dengan mode pesawat dan hiburan dalam pesawat yang itu-itu saja.