10 Provinsi Prevalensi Wasting Balita Tertinggi 2025, Papua Barat Daya Nomor 1

Penulis: Amrizal Halim  •  Senin, 28 September 2026 | 10:06:31 WIB
Prevalensi wasting balita di Papua Barat Daya tercatat 11,06 persen pada 2025, tertinggi secara nasional.

JAMBI — Prevalensi wasting pada balita di Papua Barat Daya mencapai 11,06 persen pada 2025, hampir tiga kali lipat angka nasional yang hanya 3,94 persen. Data ini menunjukkan kesenjangan gizi antarprovinsi yang masih lebar. Berikut daftar lengkap 10 provinsi dengan prevalensi wasting tertinggi dan faktor-faktor yang menyebabkannya.

Wasting adalah kondisi ketika berat badan anak turun drastis dalam waktu tertentu hingga berada di bawah kurva standar pertumbuhan. Anak yang mengalaminya tampak sangat kurus, dengan berat badan rendah dibandingkan tinggi badannya atau lingkar lengan atas (LiLA) yang kecil.

Masalah ini tergolong serius. Dari berbagai gangguan gizi pada anak, wasting punya risiko kematian tertinggi, terutama pada kasus gizi buruk. Risiko meninggal anak dengan wasting bisa mencapai 12 kali lebih tinggi dibandingkan anak bergizi normal.

Apa Penyebab Wasting pada Balita?

Wasting umumnya muncul ketika asupan gizi anak tidak memadai, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Serangan penyakit infeksi juga bisa memicu kondisi ini. Di Indonesia, penyebabnya sering saling berkaitan dengan faktor wilayah dan ekonomi.

Di Papua, misalnya, akses informasi dan layanan kesehatan tidak semudah di Pulau Jawa atau Sumatra. Banyak orang tua hanya memastikan perut anak terisi, tanpa memperhatikan kecukupan gizinya. Kemiskinan juga menjadi faktor krusial yang membatasi variasi dan kualitas makanan harian anak.

Masalah ekonomi kerap berbanding lurus dengan sanitasi buruk, sehingga anak rentan terkena infeksi. Kondisi ini diperparah biaya pengobatan yang mahal dan jumlah fasilitas kesehatan yang terbatas. Pemeriksaan kehamilan (antenatal care) yang minim turut meningkatkan risiko bayi lahir dengan kondisi rentan wasting.

Daftar 10 Provinsi dengan Prevalensi Wasting Tertinggi 2025

1. Papua Barat Daya (11,06%)

Provinsi ini mencatatkan angka tertinggi secara nasional, hampir tiga kali lipat rata-rata Indonesia. Prevalensinya jauh meninggalkan provinsi lain di daftar ini.

2. Papua Selatan (10,30%)

Papua Selatan menyusul di posisi kedua dengan angka dua digit. Tingginya prevalensi di wilayah ini berkaitan erat dengan keterbatasan akses layanan kesehatan.

3. Papua Barat (9,64%)

Papua Barat melengkapi tiga besar, menegaskan bahwa provinsi-provinsi di Pulau Papua mendominasi daftar ini.

4. Nusa Tenggara Timur (8,31%)

NTT menjadi provinsi di luar Papua dengan prevalensi wasting tertinggi. Angka ini berbanding lurus dengan persentase balita stunting di NTT yang mencapai 20,2 persen.

5. Papua (8,18%)

Provinsi Papua mencatatkan prevalensi 8,18 persen. Empat dari lima provinsi dengan angka tertinggi berada di Pulau Papua.

6. Kalimantan Timur (6,21%)

Kalimantan Timur mencatatkan 6,21 persen, turun dari 7,25 persen pada 2024. Penurunan ini menunjukkan perbaikan, meski angkanya masih di atas rata-rata nasional.

7. Sulawesi Barat (6,04%)

Sulawesi Barat menjadi satu-satunya provinsi di Pulau Sulawesi yang masuk daftar ini. Prevalensinya berada di angka 6,04 persen.

8. Papua Tengah (6,02%)

Papua Tengah menyusul dengan 6,02 persen. Lima provinsi di Pulau Papua masuk dalam sepuluh besar.

9. Nusa Tenggara Barat (5,93%)

NTB mencatatkan 5,93 persen, menjadikan Nusa Tenggara sebagai wilayah dengan dua provinsi berprevalensi tinggi.

10. Kalimantan Barat (5,48%)

Kalimantan Barat melengkapi daftar dengan 5,48 persen. Sebagai perbandingan, Sumatra Selatan mencatatkan prevalensi terendah, yaitu 1,08 persen.

Upaya Pemerintah Menekan Angka Wasting

Kementerian Kesehatan memperluas penerapan metode Pengelolaan Gizi Buruk Terintegrasi (PGBT) ke daerah-daerah berprevalensi tinggi. Kemenkes bekerja sama dengan UNICEF untuk memperkuat sistem kesehatan dan pemberdayaan komunitas.

Salah satu langkah sederhana yang terbukti efektif adalah pengukuran lingkar lengan atas (LiLA) sebagai deteksi awal anak berisiko gizi buruk. Di NTT, program PAUD Peduli Wasting aktif sejak 2022 hingga 2025 untuk memaksimalkan deteksi dini, rujukan, dan edukasi gizi.

Kapan Ibu Perlu Waspada?

Pantau berat badan dan tinggi badan anak secara rutin di posyandu atau fasilitas kesehatan. Jika berat badan anak tidak naik selama dua bulan berturut-turut, tampak sangat kurus, atau lingkar lengan atasnya mengecil, segera konsultasikan ke dokter atau ahli gizi.

Deteksi dini membuat penanganan bisa dilakukan lebih cepat. Pastikan juga asupan gizi anak seimbang dan pemeriksaan kehamilan rutin dilakukan sejak awal.

Data 2025 menunjukkan kesenjangan gizi antarprovinsi masih lebar. Dengan pemantauan rutin dan akses layanan kesehatan yang semakin merata, risiko wasting pada balita bisa ditekan sejak dini.

Pertanyaan Seputar Berita Ini

Provinsi m?
na saja dengan prevalensi wasting tertinggi di Indonesia 2025? A: Sepuluh provinsi dengan prevalensi wasting tertinggi 2025 antara lain Papua Barat Daya (11,06%), Papua Selatan (10,30%), Papua Barat (9,64%), Nusa Tenggara Timur (8,31%), Papua (8,18%), Kalimantan Timur (6,21%), dan Sulawesi Barat (6,04%).

Reporter: Amrizal Halim
Sumber: goodstats.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top