Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Jambi mendorong pemerintah daerah memperkuat sektor perkebunan kelapa dan kelapa sawit sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi sekaligus membuka lapangan kerja. Kepala Kanwil DJPb Jambi Adnan Wimbyarto menilai potensi perkebunan daerah itu besar, baik dari luas areal maupun produksi, sehingga perlu diperkuat lewat hilirisasi dan penguatan rantai pasok. Dorongan itu disampaikan dalam forum koordinasi yang juga dihadiri Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Jambi Agus Pirngadi.
JAMBI — Peningkatan produksi dinilai tidak cukup untuk mengerek kontribusi sektor perkebunan terhadap perekonomian daerah. Adnan menyebut pemerintah dan pelaku usaha perlu memperbesar nilai tambah melalui pengembangan industri hilir. Sorotan lain jatuh pada rantai distribusi komoditas yang masih perlu dibenahi.
Perbedaan harga kelapa antara daerah produksi dan wilayah perkotaan menjadi salah satu indikator lemahnya konektivitas rantai pasok. Menurut Adnan, perbaikan di sisi itu berdampak langsung pada pendapatan petani.
"Ini yang diharapkan, artinya juga menambah kesejahteraan bagi petani yang sebelumnya harganya relatif rendah," kata Adnan.
Data yang dipaparkan dalam forum menunjukkan Provinsi Jambi memiliki luas lahan kelapa mencapai 58 ribu hektare dengan produksi sekitar 51 ribu ton per tahun. Untuk kelapa sawit, data BPS 2024 mencatat luas areal mencapai 1.135.357 hektare.
Kepala BKAD Provinsi Jambi Agus Pirngadi menilai dua komoditas itu berperan penting dalam aktivitas ekonomi masyarakat di berbagai wilayah provinsi. Namun ia menegaskan potensi tersebut tidak cukup diukur dari luas areal dan jumlah produksi saja.
"Potensi itu harus diikuti dengan peningkatan produktivitas," ujar Agus.
Adnan menyebut penguatan sektor perkebunan perlu mencakup peningkatan produktivitas, kualitas sumber daya manusia, kelembagaan petani, teknologi, hilirisasi, dan penguatan rantai pasok. Salah satu peluang yang mulai dikaji adalah industri turunan kelapa, termasuk pemanfaatan sabut kelapa.
Menurut dia, langkah itu tidak berhenti pada sosialisasi. Adnan mendorong pencarian solusi yang bisa dijadikan praktik terbaik dan benchmark bagi daerah lain.
"Kita itu bukan sekadar sosialisasi, tapi bagaimana mencari solusi yang bisa best practice dijadikan benchmark," katanya.
Kanwil DJPb Jambi mendorong pemerintah daerah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan kelompok tani memperkuat sinergi dalam pengembangan perkebunan. Kolaborasi itu dinilai menentukan seberapa cepat hilirisasi berjalan di tingkat kabupaten dan kota.
Adnan menegaskan peluang usaha di Jambi dapat memperkuat kontribusi pertumbuhan ekonomi, terlebih lagi menciptakan lapangan kerja.
"Kita melihat peluang usaha ada di Jambi, dan ini bisa memperkuat kontribusi pertumbuhan ekonomi, terpenting lagi menciptakan lapangan kerja," kata Adnan.