JAMBI — Kekayaan Daniel Nadler menembus US$7,6 miliar atau sekitar Rp137,5 triliun berkat OpenEvidence, platform kecerdasan buatan yang membantu dokter mengambil keputusan klinis. Forbes menempatkannya di peringkat ke-516 orang terkaya dunia dan ke-498 di bidang teknologi. Valuasi OpenEvidence sendiri ditaksir mencapai US$12 miliar pada awal 2026.
Posisi Nadler di daftar orang terkaya dunia versi Forbes itu ditopang kepemilikan 60% saham OpenEvidence. Platform yang ia dirikan bersama Zachary Ziegler pada 2022 tersebut kini dipakai lebih dari 758 ribu dokter, dengan pertambahan sekitar 55 ribu pengguna baru setiap bulan.
Majalah Time juga memasukkan Nadler ke daftar sosok paling berpengaruh di bidang kecerdasan buatan pada 2026. Pengakuan itu datang bukan dari produk konsumen, melainkan dari perangkat kerja yang menyasar tenaga medis berlisensi.
Daniel J Nadler lahir di Toronto, Kanada, 3 Juni 1983. Ayahnya imigran Rumania yang bekerja sebagai insinyur, ibunya imigran Polandia. Ia menempuh studi S1 di Universitas Toronto sebelum melanjutkan pendidikan pascasarjana di Harvard hingga meraih gelar PhD di bidang ekonomi politik.
Selama di Harvard, Nadler memperdalam matematika dan sastra. Ia juga sempat menjadi visiting scholar di The Federal Reserve Bank of Boston pada 2013.
Pengalaman di bank sentral itulah yang mengubah arah kariernya. Nadler kaget melihat regulator dan analis keuangan masih menganalisis dampak kebijakan global terhadap pasar secara manual. Pada Mei 2013 ia mendirikan Kensho Technologies, mesin pencari cerdas untuk analisis data keuangan berbasis AI.
Lima tahun kemudian, S&P Global mengakuisisi Kensho senilai US$550 juta. Angka itu menjadi modal awal Nadler membangun bisnis AI keduanya.
OpenEvidence memproses informasi hanya dari sumber medis terpercaya dan berlisensi. Platform ini bermitra dengan NCCN Guidelines, The New England Journal of Medicine, dan The Journal of the American Medical Association.
Tenaga medis berlisensi bisa memakai platform secara gratis. Pendapatan perusahaan datang dari iklan, model yang membuat adopsi pengguna melaju cepat tanpa hambatan biaya langganan.
Nadler menyebut kelelahan dokter sebagai persoalan yang ingin dijawab OpenEvidence.
"Kita berbicara tentang zaman keemasan bioteknologi, di mana obat-obatan baru dan yang lebih baik terus dikembangkan. Namun, bagi para dokter, ini justru terasa seperti zaman kegelapan akibat kelelahan yang ekstrem," ujar Nadler dalam wawancara dengan Forbes pada 2025.
Pada Oktober 2025, valuasi OpenEvidence berada di US$6 miliar setelah putaran pendanaan Seri C. Awal 2026, angka itu berlipat menjadi US$12 miliar lewat putaran Seri D senilai US$250 juta.
Lompatan valuasi dua kali dalam beberapa bulan menunjukkan selera investor terhadap AI vertikal yang punya data terkurasi dan pengguna profesional. Bagi Nadler, kepemilikan 60% saham membuat nilai hartanya ikut terkerek signifikan.
Rencana ke depan, OpenEvidence tidak berhenti sebagai mesin pencari klinis. Nadler ingin melebarkan sayap perusahaan sebagai pengembang obat berbasis AI, langkah yang akan menempatkannya bersaing langsung dengan perusahaan farmasi dan bioteknologi.
Ketertarikan Nadler pada sastra tumbuh sejak kuliah di Harvard. Ia sempat mendapat bimbingan dari penyair peraih Pulitzer, Jorie Graham.
Pada 2016, Nadler menerbitkan buku puisi pertamanya berjudul "Lacunae: 100 Imagined Ancient Love Poems" melalui Farrar, Straus and Giroux. Karya itu mendapat sambutan positif dari media, termasuk The Washington Post. Ia juga pernah menjabat di dewan Academy of American Poets.
Saat ini Nadler tinggal di kawasan mewah Surfside, Florida, Amerika Serikat. Laporan The Wall Street Journal mencatat ia memiliki sejumlah aset properti di Beverly Hills dan Malibu, California.