JAMBI — Toyota resmi mengonfirmasi langkah besar untuk divisi mewahnya, Lexus, dengan membangun basis produksi EV di China. Fasilitas yang sepenuhnya dimiliki Toyota tersebut akan berlokasi di Shanghai dan mulai beroperasi pada awal 2027. Ini menjadi pertama kalinya Lexus memproduksi kendaraan di luar Jepang untuk pasar domestik China, sekaligus menjadi pusat uji teknologi manufaktur terbaru pabrikan.
Pabrik Baru di Shanghai: Kapasitas Bertahap hingga Puluhan Ribu Unit
Pada tahap awal, pabrik Shanghai hanya akan merakit sekitar 1.000 unit per bulan. Angka ini akan dinaikkan secara signifikan menjadi puluhan ribu unit per tahun mulai 2028. Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan — China adalah pasar EV terbesar dunia dengan ekosistem rantai pasok komponen dan baterai paling kompetitif.
Dengan memproduksi langsung di China, Lexus terbebas dari bea impor dan bisa menekan biaya produksi. Langkah ini juga menjawab tekanan kompetitif dari merek-merek premium asal China yang selama ini menggerus pangsa pasar Lexus di Negeri Tirai Bambu.
Gigacasting: Struktur Bodi Lebih Ringan dan Kaku
Teknologi kunci yang akan diterapkan pada EV Lexus pertama ini adalah gigacasting, metode produksi yang dipopulerkan Tesla. Sistem ini menggabungkan beberapa bagian struktur bodi yang sebelumnya dibuat terpisah menjadi satu komponen cetakan raksasa. Toyota pertama kali mengumumkan rencana adopsi metode konstruksi modular ini pada 2023, dengan tiga komponen utama penyusun bodi.
Dampaknya cukup signifikan: bobot komponen hasil pengepresan bisa berkurang hingga 20 persen, kekakuan bodi meningkat, dan bobot keseluruhan kendaraan turun. Efisiensi ini pada akhirnya memperpanjang jarak tempuh EV — faktor krusial di pasar China yang sangat kompetitif.
Ford juga dikabarkan menerapkan metode perakitan tiga bagian serupa untuk platform Universal Electric Vehicle mereka, yang akan debut lewat pikap listrik Fathom akhir tahun ini.
Model Perintis Khusus China, Teknologi Menyusul ke Jepang
Model Lexus pertama yang dibangun dengan platform gigacasting ini belum diumumkan secara resmi. Namun, Toyota memberi sinyal bahwa model perintis tersebut akan dipasarkan secara eksklusif di China. Artinya, konsumen di Indonesia dan pasar global lainnya harus menunggu lebih lama untuk merasakan teknologi ini.
Yang menarik, keputusan ini membalik alur tradisional Lexus yang biasanya memperkenalkan teknologi baru di Jepang terlebih dahulu. Kini, China menjadi lokasi debut teknologi tersebut sebelum berpotensi dibawa pulang ke pabrik-pabrik Jepang. Jika berhasil, bukan tidak mungkin metode produksi ini akan diadopsi untuk model Lexus dan Toyota lain di berbagai negara.
Langkah Toyota ini juga berbeda dari pendekatan sebelumnya. Selama ini, model elektrifikasi Toyota untuk pasar China diproduksi lewat perusahaan patungan dengan mitra lokal. Kini, pabrik Shanghai akan menjadi entitas yang sepenuhnya dimiliki Toyota, memberi kendali penuh atas proses produksi dan teknologi.