Pencarian

Anthropic Bidik IPO hingga US$ 100 Miliar, Uji Pasar di Tengah Gejolak AI

Selasa, 06 Oktober 2026 • 15:04:31 WIB
Anthropic Bidik IPO hingga US$ 100 Miliar, Uji Pasar di Tengah Gejolak AI
Anthropic berpotensi mengumpulkan dana hingga US$ 100 miliar melalui pencatatan saham perdana.

JAMBI — Anthropic berpotensi mengumpulkan dana hingga US$ 100 miliar (sekitar Rp 1.792 triliun) lewat pencatatan saham perdana yang bisa berlangsung paling cepat November. Nilai itu akan menempatkan pembuat Claude ini di jajaran 10 perusahaan paling berharga dunia dengan valuasi sekitar US$ 2 triliun. Namun gelombang penundaan IPO teknologi dan lonjakan imbal hasil obligasi membuat ujian minat investor Wall Street semakin berat.

Rencana IPO Anthropic menjadi salah satu penawaran saham terbesar yang pernah diuji pasar modal Amerika Serikat. Jika terealisasi, nilai perusahaan pembuat Claude itu berpotensi melampaui rekor yang dicetak SpaceX dengan valuasi US$ 1,77 triliun. Namun sejumlah perusahaan teknologi memilih menunda debut mereka karena ketidakpastian pasar yang meningkat.

Heath Terry, analis pasar modal, menyebut kombinasi kenaikan suku bunga, konflik geopolitik, dan pelemahan ekonomi sejumlah negara pengguna teknologi AI sebagai pemicu utama keraguan investor.

"Suku bunga semakin meningkat. Ada perang di Iran. Ekonomi negara-negara yang dulunya menggunakan teknologi AI juga semakin tidak stabil, menurut saya itulah yang menyebabkan ketidakpastian," kata Terry.

Gelombang Penundaan IPO di Sektor Teknologi

Beberapa perusahaan teknologi sudah lebih dulu menunda rencana pencatatan saham mereka. Oura, produsen cincin pelacak kesehatan, membatalkan debutnya pada musim gugur ini karena ketidakpastian pasar. Holtec Nuclear juga menangguhkan rencana IPO dengan alasan sentimen buruk di pasar saham.

OpenAI bahkan mengumumkan penundaan IPO hingga tahun depan. Perusahaan itu menyebut kekhawatiran soal keamanan AI sebagai salah satu pertimbangan utama. Penundaan ini menjadi sinyal bahwa investor mulai selektif menilai perusahaan AI yang belum membuktikan profitabilitas jangka panjang.

Terry menambahkan proses IPO membutuhkan lingkungan pasar yang stabil dan sikap positif investor. Kondisi ekonomi yang bergejolak membuat proses tersebut jauh lebih sulit dijalankan.

Regulasi dan Keselamatan AI Jadi Hambatan Internal

Rencana Anthropic tidak hanya menghadapi tekanan pasar. Pertanyaan soal regulasi AI dan risiko keselamatan turut memperlambat proses menuju IPO. Mantan karyawan dan CEO Anthropic Dario Amodei menyuarakan kekhawatiran dalam beberapa pekan terakhir.

Seruan untuk memperlambat pengembangan AI menguat di seluruh industri. Para pemimpin teknologi, termasuk Amodei, menandatangani kesepakatan di Gedung Putih pekan lalu untuk mengawasi sendiri pengembangan AI mereka.

Langkah itu dinilai sebagai upaya industri menjaga kepercayaan publik sekaligus meredam dorongan regulator untuk menerapkan aturan yang lebih ketat. Bagi calon investor, komitmen pengawasan mandiri ini menjadi sinyal bahwa risiko regulasi bisa dikelola sebelum perusahaan masuk bursa.

Tekanan Makro dari Lonjakan Imbal Hasil Obligasi

Imbal hasil obligasi melonjak dalam beberapa pekan terakhir. Kenaikan itu mendorong biaya pinjaman lebih mahal karena pedagang menyesuaikan diri dengan guncangan energi akibat perang Iran dan kenaikan suku bunga bank sentral.

Kondisi ini membuat investor beralih ke instrumen pendapatan tetap yang menawarkan imbal hasil lebih menarik. Saham perusahaan teknologi yang belum menghasilkan laba stabil menjadi kurang kompetitif di portofolio investor jangka pendek.

Meski demikian, Anthropic tetap melanjutkan rencananya menjalankan skema IPO sekaligus mengumpulkan data minat investor. Jika berhasil, pencatatan saham ini akan menjadi penawaran publik terbesar sepanjang sejarah.

Peluang Menempati Posisi Kedua dalam Sebulan

Jay Ritter, Profesor Emeritus di University of Florida, menilai Anthropic masih punya peluang besar meski pasar sedang bergejolak. Menurutnya, skala perusahaan membuat Anthropic tetap menarik bagi investor institusi yang mencari eksposur ke sektor AI.

"SpaceX merupakan pengecualian yang luar biasa, IPO terbesar di dunia sepanjang masa. Sangat mungkin bagi mereka untuk menempati posisi kedua dalam waktu sekitar sebulan ke depan," kata Ritter.

Bagi investor Indonesia, perkembangan ini menjadi indikator penting arah minat global terhadap sektor AI. Sentimen terhadap IPO Anthropic bisa memengaruhi valuasi perusahaan teknologi Asia, termasuk emiten teknologi di Bursa Efek Indonesia yang bergerak di bidang kecerdasan buatan dan komputasi awan.

Follow www.halojambi.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: katadata.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks