Pertamina Perkuat Pasokan Energi Nasional Lewat Kerja Sama Strategis dengan Amerika

Penulis: Wan Rizal  •  Sabtu, 09 Mei 2026 | 14:11:53 WIB
Pertamina dan U.S. Department of Energy memperkuat kerja sama strategis untuk keamanan pasokan energi nasional.

WASHINGTON D.C. — PT Pertamina (Persero) memperluas kemitraan strategis dengan Amerika Serikat untuk menjamin keamanan energi nasional. Langkah ini mencakup penguatan rantai pasok LPG, penjajakan impor minyak mentah, hingga transfer teknologi migas non konvensional. Pertemuan tersebut dihadiri oleh Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza dan sejumlah pejabat tinggi U.S. Department of Energy (DOE).

Fokus utama diskusi ini adalah mempererat hubungan perdagangan energi yang selama ini menjadi pilar ketahanan stok di dalam negeri. Amerika Serikat tercatat sebagai salah satu pemasok energi utama bagi Indonesia, terutama untuk komoditas gas bumi cair yang dibutuhkan masyarakat luas.

Impor LPG Amerika Serikat Capai 5 Juta MT pada 2025

Ketergantungan Indonesia terhadap pasokan energi dari Amerika Serikat terlihat dari data volume impor LPG. Lebih dari 70 persen kebutuhan impor LPG nasional dipenuhi oleh produsen asal Amerika Serikat dengan volume mencapai lebih dari 5 juta metrik ton (MT) pada 2025.

Untuk menjaga kepastian stok dan stabilitas harga di pasar domestik, Pertamina kini mendorong penguatan kerja sama jangka panjang. Skema long-term contract (LTC) menjadi prioritas dalam negosiasi dengan para eksportir energi di Amerika Serikat guna memitigasi risiko fluktuasi pasokan global.

“Indonesia adalah salah satu negara dengan pertumbuhan konsumsi energi tercepat di kawasan Asia Pasifik, sehingga membutuhkan pasokan energi yang aman, terjangkau, dan berkelanjutan. Karena itu, Pertamina terus memperkuat kemitraan strategis dengan Amerika Serikat untuk mendukung keamanan pasokan energi, pengembangan teknologi, serta peningkatan kapasitas sektor energi nasional,” ujar Oki Muraza.

Rencana Impor Minyak Mentah WTI untuk Kilang Nasional

Selain fokus pada LPG, Pertamina juga menjajaki potensi impor minyak mentah jenis light sweet crude seperti West Texas Intermediate (WTI). Peluang ini muncul seiring dengan peningkatan kapasitas pengolahan kilang nasional melalui program Refinery Development Master Plan (RDMP).

Dalam pertemuan di Washington tersebut, kedua pihak mendiskusikan pengelolaan Strategic Petroleum Reserve (SPR). Pertamina berupaya mendalami sistem penyimpanan energi strategis untuk memperkuat cadangan nasional di tengah ketidakpastian geopolitik yang sering mengganggu distribusi energi dunia.

Pengembangan infrastruktur penyimpanan ini dianggap krusial untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan di masa depan. Pertamina dan DOE sepakat untuk melakukan knowledge sharing terkait teknologi dan manajemen cadangan minyak bumi tersebut.

Kolaborasi Pengembangan Migas Non Konvensional di Indonesia

Sektor hulu juga menjadi poin penting dalam penjajakan kolaborasi ini. Pertamina mendorong perusahaan energi Amerika Serikat untuk terlibat aktif dalam pengembangan sumber daya migas non konvensional di wilayah Indonesia.

Kerja sama yang ditawarkan meliputi investasi sektor hulu, pelaksanaan proyek percontohan (pilot project), hingga transfer teknologi pengeboran dan completion. Upaya ini bertujuan untuk mengoptimalkan potensi sumur-sumur migas yang selama ini belum tergarap maksimal dengan teknologi konvensional.

Pertemuan ini turut dihadiri oleh Corporate Secretary Pertamina Arya Dwi Paramita serta pejabat DOE seperti Deputy Assistant Secretary for Asia and the Americas Elizabeth Urbanas dan Deputy Assistant Secretary for International Cooperation Aleshia Duncan. Kolaborasi ini diharapkan mampu meningkatkan kapabilitas sumber daya manusia di sektor energi nasional melalui program pengembangan kompetensi berkelanjutan.

Reporter: Wan Rizal
Sumber: jambiindependent.disway.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top