Rupiah Terperosok ke Rp17.987 per Dolar AS, PCE AS dan Sikap Hawkish The Fed Jadi Biang Kerok

Penulis: Tengku Syafri  •  Jumat, 26 Juni 2026 | 09:36:31 WIB
Rupiah melemah ke Rp17.987 per dolar AS seiring penguatan indeks dolar di pasar global.

JAMBI — Pergerakan rupiah terjadi di tengah tekanan dolar AS yang kembali perkasa. Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong menyebut data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS menjadi pemicu utama sentimen negatif di pasar keuangan global pagi ini.

Dolar AS Menguat di Hadapan Sebagian Besar Mata Uang Asia

Di kawasan Asia, rupiah bukan satu-satunya yang tertekan. Won Korea Selatan menjadi yang terlemah dengan depresiasi 0,38 persen, disusul dolar Singapura yang turun 0,05 persen. Yen Jepang dan yuan China juga ikut melemah masing-masing 0,03 persen dan 0,01 persen.

Namun, beberapa mata uang Asia masih mampu bertahan. Ringgit Malaysia memimpin penguatan dengan apresiasi 0,31 persen, diikuti peso Filipina yang naik 0,07 persen, dan dolar Hong Kong yang menguat tipis 0,01 persen.

Inflasi Inti AS dan Sikap Hawkish Jadi Tekanan Utama

Lukman menjelaskan, kenaikan inflasi inti PCE AS ke level tertinggi dalam 20 bulan terakhir membuat pasar kembali berekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. “Pernyataan hawkish pejabat The Fed juga meningkatkan prospek kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com.

Sentimen ini langsung mendorong penguatan indeks dolar AS, yang membuat aset berdenominasi rupiah menjadi kurang menarik bagi investor asing. Data perdagangan menunjukkan mayoritas mata uang utama negara maju juga ikut terdepresiasi, dengan dolar Australia turun 0,29 persen dan euro melemah 0,10 persen.

Proyeksi Pergerakan Rupiah Hari Ini: Rp17.900–Rp18.050

Melihat tekanan yang masih berlangsung, Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS pada sesi perdagangan hari ini. Level psikologis Rp18.000 kembali menjadi titik krusial yang diwaspadai para pelaku pasar.

Jika tekanan jual terhadap rupiah berlanjut, Bank Indonesia (BI) diprediksi akan kembali melakukan intervensi ganda di pasar spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk menjaga stabilitas kurs. Investor disarankan mencermati data tenaga kerja AS yang akan dirilis pekan depan sebagai katalis berikutnya.

Reporter: Tengku Syafri
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top