JAKARTA — IHSG berhasil mempertahankan tren positif di sesi pembukaan perdagangan Kamis (2/6/2026), didorong oleh meredanya kekhawatiran pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan global. Indeks LQ45 yang mewakili 45 saham unggulan juga ikut terdongkrak 2,57 poin atau 0,46 persen ke level 559,32.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mengungkapkan bahwa pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh dalam forum European Central Bank (ECB) menjadi katalis positif. Warsh menegaskan target inflasi masih di level 2 persen dan kenaikan harga pada tahun sebelumnya hanya bersifat sementara.
"Karena saat ini, harga energi dan bensin terus mengalami penurunan, karena ada kabar baik mengenai kesepakatan Amerika Serikat (AS) dan Iran," ujar Nico dalam kajiannya di Jakarta, Kamis.
Pernyataan tersebut membuat imbal hasil obligasi AS tidak kembali naik dan cenderung turun. Warsh juga mengingatkan independensi The Fed meskipun Presiden AS Donald Trump terus mendorong penurunan suku bunga.
Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Juni 2026 secara bulanan mencapai 0,44 persen month to month (mtm). Secara tahun kalender, inflasi tercatat 1,79 persen year to date (ytd) dan 3,34 persen secara tahunan. Kenaikan ini dipicu oleh siklus musiman, lonjakan harga bahan baku, serta kenaikan harga BBM.
Di sisi eksternal, BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia defisit 1,61 miliar dolar AS pada Mei 2026. Ini merupakan defisit pertama sejak enam tahun terakhir. Nilai impor mencapai 24,81 miliar dolar AS, melampaui ekspor yang hanya 23,20 miliar dolar AS.
"Tekanan terhadap sektor eksternal Indonesia mulai meningkat, terutama akibat perlambatan ekspor di tengah melemahnya permintaan global, serta penurunan harga sejumlah komoditas unggulan," jelas Nico.
Secara teknikal, Nico memperkirakan IHSG berpotensi menguat terbatas dengan rentang support dan resistance di level 5.320 hingga 5.735. "Potensi koreksi masih berpotensi terjadi, tetap hati-hati," ujarnya.
Meski defisit perdagangan menjadi catatan, Nico menilai dampaknya terhadap fundamental ekonomi masih terbatas. Secara kumulatif periode Januari-Mei 2026, neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus. Kenaikan impor yang didominasi bahan baku dan barang modal justru mencerminkan kuatnya kebutuhan domestik serta aktivitas produksi.
Bursa Asia pagi ini bergerak variatif. Nikkei menguat 1,55 persen, Strait Times naik 0,49 persen, sementara Shanghai melemah 0,83 persen dan Hang Seng turun 1,15 persen. Wall Street dan bursa Eropa ditutup variatif pada perdagangan sebelumnya.