KERINCI — Kabupaten Kerinci menjadi salah satu dari sembilan daerah dengan biaya konstruksi termurah di Provinsi Jambi. Dari total 11 kabupaten/kota se-Jambi, Kerinci menempati peringkat ke-9 terendah dengan IBK 97,22 poin. Posisi ini menunjukkan bahwa biaya bangun di Kerinci masih di bawah rata-rata provinsi yang berkisar di angka 100 poin.
Angka IBK 97,22 berarti biaya konstruksi di Kerinci setara 0,972 kali biaya di Surabaya, yang ditetapkan BPS sebagai kota acuan dengan indeks 100 poin. Semakin tinggi nilai IBK suatu daerah, semakin mahal biaya membangun di wilayah tersebut.
Sebagai perbandingan, kabupaten dengan biaya konstruksi termahal di Jambi justru berada di Tanjung Jabung Barat dengan IBK 102,19 poin—lebih mahal 5 poin dari Kerinci. Sementara itu, Bungo menjadi daerah termurah dengan IBK 87,74 poin.
Meski secara tahunan turun 0,73 poin dari posisi 2024, tren jangka panjang menunjukkan kenaikan signifikan. Dalam lima tahun terakhir, IBK Kerinci melesat 7,06 poin—dari sekitar 90 poin pada 2020 menjadi 97,22 poin pada 2025. Kenaikan ini mencerminkan tekanan inflasi material bangunan dan upah pekerja di daerah pegunungan tersebut.
BPS mendefinisikan IBK sebagai indeks harga yang mengukur tingkat biaya konstruksi relatif suatu daerah terhadap kota acuan. Data ini menjadi acuan bagi pemerintah daerah dalam menyusun anggaran proyek infrastruktur, serta bagi kontraktor dan pengembang properti untuk menentukan harga jual rumah.
Bagi warga Kerinci yang berencana membangun rumah, nilai IBK di bawah 100 poin bisa diartikan biaya konstruksi lebih murah dibanding Surabaya. Namun, kenaikan 7 poin dalam lima tahun tetap menjadi sinyal bahwa harga material dan jasa konstruksi di daerah itu terus merangkak naik.
Kepala BPS setempat belum memberikan keterangan resmi mengenai faktor spesifik di balik penurunan tahunan tipis ini. Namun, pola serupa terjadi di beberapa kabupaten lain di Jambi yang juga mencatat koreksi IBK pada 2025.