JAMBI — Asosiasi Mobil Bekas Indonesia (AMBI) menyebut potensi pasar mobil bekas di Tanah Air jauh melampaui penjualan mobil baru. Namun, ketiadaan basis data penjualan yang akurat selama ini menjadi kendala utama bagi pelaku industri, perusahaan pembiayaan, hingga pemerintah untuk membaca pertumbuhan sektor tersebut secara utuh.
Sekretaris Jenderal AMBI, Ricky Prabowo, mengungkapkan asosiasi kini mulai merapikan pendataan transaksi dari seluruh anggotanya. "Sebenarnya penjualannya saya yakin lebih besar daripada mobil baru. Cuma data real-nya itu yang susah didapat. Itu yang menjadi tujuan kami di DPP, bagaimana mendapatkan data penjualan yang benar-benar akurat," ujarnya di Jakarta Pusat, Sabtu (4/7/2026).
Saat ini AMBI memiliki 249 showroom anggota yang tersebar di 21 Dewan Pimpinan Daerah (DPD). Dengan jumlah tersebut, potensi data transaksi yang bisa dikumpulkan cukup signifikan untuk menggambarkan denyut pasar mobil bekas nasional.
Ricky menambahkan, selama ini belum ada satu pun basis data yang mampu menyajikan kondisi pasar kendaraan bekas secara menyeluruh. Padahal, industri ini terus tumbuh dengan melibatkan ratusan showroom di berbagai daerah, dari kota besar hingga wilayah penyangga.
Untuk membangun ekosistem yang lebih tertata, AMBI tidak hanya fokus pada pendataan. Asosiasi juga menerapkan sejumlah persyaratan ketat bagi calon anggota, mulai dari kepemilikan lokasi usaha, stok kendaraan, hingga proses verifikasi sebelum resmi bergabung.
Lebih lanjut, setiap showroom anggota didorong untuk menyediakan laporan inspeksi kendaraan dan garansi sebagai bentuk transparansi kepada konsumen. "Kalau sekarang orang beli mobil bekas biasanya minta report inspeksi. Itu sudah menjadi kebutuhan. Jadi kami dorong showroom anggota mengikuti standar seperti itu," kata Ricky.
Langkah ini dinilai krusial untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap bisnis mobil bekas yang kerap dihadapkan pada isu kondisi kendaraan yang tidak transparan.
Selain pendataan dan standarisasi, AMBI juga berupaya memperluas kerja sama dengan perusahaan pembiayaan. Tujuannya agar akses kredit kendaraan bekas semakin mudah, terutama bagi konsumen di luar kota-kota besar yang selama ini kerap kesulitan mendapatkan fasilitas pembiayaan.
Dengan tiga pilar sekaligus—data yang rapi, standar showroom yang jelas, dan akses pembiayaan yang lebih luas—AMBI optimistis pasar mobil bekas Indonesia bisa tumbuh lebih terukur dan profesional ke depannya.