BUNGO — Prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan di Kabupaten Bungo, Jambi, naik signifikan dalam setahun terakhir. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, angka Prevalence of Undernourishment (PoU) di daerah itu mencapai 8,16 persen pada 2025, melonjak 1,65 persen dari 6,51 persen pada 2024.
Angka ini menempatkan Bungo di posisi kedua tertinggi dari 10 kabupaten/kota di Provinsi Jambi. Hanya Kabupaten Muaro Jambi yang lebih rendah, dengan PoU 8,04 persen. Sebaliknya, Kabupaten Tanjung Jabung Barat menjadi daerah dengan PoU tertinggi, yakni 13,33 persen.
Menurut Badan Pangan Nasional (Bapanas), PoU menggambarkan kondisi seseorang yang secara regular mengonsumsi makanan, tetapi jumlah energinya tidak mencukupi untuk hidup normal, aktif, dan sehat. Indikator ini menjadi alat ukur utama kerawanan pangan dan gizi di suatu wilayah.
Artinya, di Bungo, 8,16 persen dari total penduduk masuk kategori kurang asupan energi harian. Angka ini lebih tinggi dari rata-rata nasional yang sebesar 7,89 persen.
BPS merilis daftar lengkap PoU di 10 kabupaten/kota se-Provinsi Jambi pada 2025. Berikut urutannya dari yang terendah:
Meskipun dalam lima tahun terakhir PoU Bungo tercatat turun 0,59 persen, lonjakan dalam satu tahun ini menjadi perhatian serius. Kenaikan 1,65 persen menunjukkan adanya tekanan pada akses pangan rumah tangga dalam waktu relatif singkat.
Dengan posisi di atas rata-rata nasional, Pemkab Bungo dan Pemerintah Provinsi Jambi dinilai perlu segera mengidentifikasi faktor pemicu—mulai dari harga pangan, distribusi, hingga daya beli masyarakat—untuk mencegah kerawanan pangan yang lebih luas.