GM dan Ford Kini Jarang Bahas EV di Hadapan Investor, Frekuensi Terendah Sejak Era Pra-Pandemi

Penulis: Amrizal Halim  •  Sabtu, 01 Agustus 2026 | 07:15:31 WIB
GM dan Ford lebih jarang membahas kendaraan listrik dalam panggilan konferensi dengan investor, frekuensi terendah sejak era pra-pandemi.

JAMBI — Frekuensi pembahasan kendaraan listrik (EV) oleh General Motors (GM) dan Ford dalam panggilan konferensi dengan investor kini berada di titik terendah sejak era pra-pandemi. Temuan ini diungkap melalui analisis data selama tujuh tahun terakhir yang dilakukan TechCrunch bersama Hudson Labs, firma riset keuangan asal New York.

Pada panggilan konferensi kuartal kedua 2026, GM hanya menyebut EV sebanyak 21 kali. Angka ini merosot tajam dibandingkan kuartal yang sama di tahun sebelumnya yang mencatat 82 penyebutan. Padahal, pada akhir 2020, GM sempat menyebut EV lebih dari 100 kali dalam sekali panggilan, dengan porsi sekitar sepertiga dari total diskusi.

Dua Raksasa Otomotif, Satu Arah Baru

Ford mengalami pola serupa. Setelah sempat gencar membahas EV pasca peluncuran Mustang Mach-E pada akhir 2019, porsi pembicaraan tentang elektrifikasi mulai menyusut. Kedua perusahaan kini lebih banyak mengalokasikan waktu untuk membahas peluang pertumbuhan lain di hadapan analis dan investor.

Juru bicara GM, Jim Cain, menegaskan bahwa perusahaan tetap konsisten dengan visi jangka panjangnya. "Kami sangat jelas dan konsisten dalam mengkomunikasikan pandangan bahwa EV adalah tujuan akhir," ujarnya dalam pernyataan tertulis. Namun, ia menambahkan bahwa pihaknya juga perlu membahas topik kompleks seperti dampak kebijakan perdagangan dan regulasi, alokasi modal, hingga kinerja operasional.

Cain juga menyebutkan bahwa kualitas lebih penting daripada kuantitas. "Kualitas lebih penting daripada kuantitas," katanya, merujuk pada pendekatan GM terhadap portofolio EV mereka saat ini.

Perubahan Kebijakan dan Regulasi Jadi Pemicu

Penurunan frekuensi pembahasan EV ini tidak lepas dari perubahan lanskap politik dan regulasi di Amerika Serikat. Setelah Donald Trump kembali menjabat, pemerintahannya memangkas berbagai regulasi lingkungan yang selama ini mendorong adopsi kendaraan nol emisi. Insentif pajak federal senilai USD 7.500 untuk pembeli EV baru juga dihapuskan.

GM sendiri pernah berkomitmen tinggi untuk menjadi perusahaan yang sepenuhnya menjual kendaraan listrik pada 2035. Kini, perusahaan tersebut lebih sering berbicara tentang bagaimana mereka menyelaraskan kapasitas produksi EV dengan perubahan kebijakan yang ada.

Strategi Ford: Platform EV Universal

Di sisi lain, Ford memilih pendekatan berbeda. Juru bicara Ford, David Tovar, menyoroti rencana peluncuran platform "Universal Electric Vehicle" pada tahun depan. Menurutnya, produk pertama yang akan meluncur dari platform tersebut, sebuah pikap ukuran menengah, diyakini akan tepat sasaran di pasar EV.

"Kami pikir produk pertama yang keluar dari jalur produksi, sebuah pikap ukuran menengah, akan mencapai titik manis pasar EV dalam hal biaya, harga, dan teknologi," kata Tovar.

Catatan Metodologi Analisis

Dalam analisis ini, TechCrunch tidak menyertakan Stellantis—bagian ketiga dari Detroit Big Three. Alasannya, perusahaan yang terbentuk dari merger Fiat Chrysler dan PSA Group pada 2021 ini secara tradisional tertinggal dari rekan-rekannya di AS dalam adopsi EV. Selain itu, hingga kuartal pertama tahun ini, Stellantis hanya mengadakan panggilan konferensi komprehensif dua kali setahun, bukan empat kali seperti kebanyakan perusahaan publik.

Hudson Labs menggunakan alat riset AI bernama Co-Analyst untuk menandai topik pada setiap kalimat dalam transkrip panggilan konferensi yang bersumber dari S&P Market Intelligence sejak 2019. Frekuensi dan porsi topik kemudian dihitung untuk menghasilkan data perbandingan.

Reporter: Amrizal Halim
Sumber: techcrunch.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top