Bulog Raup Potensi Laba Rp 1,14 Triliun di 2026, Margin Beras Naik Tujuh Kali Lipat

Penulis: Zulfahmi Rasyid  •  Selasa, 04 Agustus 2026 | 10:20:01 WIB
Direktur Utama Bulog memaparkan proyeksi laba perusahaan mencapai Rp 1,14 triliun pada 2026 di Kantor Bulog, Jakarta, Senin (3/8/2026).

JAMBI — Lonjakan Margin dan Proyeksi Laba

Pemerintah resmi mengubah skema keuntungan Bulog dari sistem nominal tetap menjadi persentase. Jika sebelumnya Bulog hanya menerima margin Rp 50 per kg beras yang dijual, kini perusahaan pelat merah itu berhak atas 7 persen dari nilai penjualan. Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengungkapkan perubahan ini berdampak signifikan terhadap struktur keuangan perusahaan.

"Margin Bulog yang dulunya Rp 50 per kilo, sekarang menjadi 7 persen. Nah, 7 persen itu kalau dikalkulasikan dengan angka menjadi sekitar Rp 970," ujarnya di Kantor Bulog, Jakarta, Senin (3/8/2026).

Dengan asumsi penjualan berjalan normal hingga akhir tahun, tambahan margin tersebut diproyeksikan mendorong neraca keuangan Bulog ke zona positif. "Sehingga dengan Rp 970 tersebut, kalau diperhitungkan sampai dengan akhir tahun, diproyeksikan neraca keuangan Bulog akan menjadi positif, yaitu sekitar Rp 1,14 triliun," imbuh Rizal.

Subsidi Bunga Kredit Menekan Beban Operasional

Proyeksi keuangan positif tersebut tidak hanya bersumber dari kenaikan margin penjualan. Bulog juga memperoleh ruang fiskal baru dari efisiensi biaya operasional. Perusahaan diperkirakan menghemat anggaran hingga Rp 1,07 triliun pada tahun ini.

Penghematan itu berasal dari penurunan beban bunga cicilan perbankan. Pemerintah memberikan subsidi bunga kredit sebesar 2 persen, sehingga suku bunga yang harus ditanggung Bulog turun drastis dari kisaran 7-8 persen menjadi hanya 3 persen.

Rizal menyebut kebijakan ini sebagai pencapaian yang belum pernah terjadi sebelumnya. "Bunga bank yang biasanya 7–8 persen diturunkan menjadi 3 persen. Ini luar biasa dan dampak dari pengurangan bunga bank tersebut membuat Bulog mampu mengurangi biaya pembayaran bunga dalam satu tahun lebih dari Rp 1,07 triliun," jelasnya.

Komitmen Peningkatan Layanan Publik

Dengan tambahan pendapatan dan penghematan biaya, Bulog tidak berencana mengalokasikan seluruh surplus untuk keuntungan internal. Rizal menegaskan perusahaan akan memanfaatkan hasil positif ini untuk memperbaiki kualitas pelayanan publik, terutama dalam hal distribusi dan ketersediaan pangan.

"Dengan penambahan hasil yang positif ini, kami di Bulog akan memperbaiki dan meningkatkan kualitas serta tingkat pelayanan kami kepada masyarakat. Kami berjanji akan memberikan yang terbaik untuk bangsa dan negara Republik Indonesia," tuturnya.

Dukungan Penuh Pemerintah

Rizal juga menyampaikan apresiasi atas dukungan lintas kementerian yang memungkinkan kebijakan suku bunga rendah ini terwujud. Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan operasional Bulog ke depan.

"Ini suatu prestasi yang luar biasa dan baru kali ini Bulog diberikan suku bunga yang begitu rendah, yaitu 3 persen dari pemerintah. Kami sangat bersyukur atas bantuan dan dukungan dari Bapak Presiden, Menteri Pertanian, Menko Pangan, Menteri Keuangan, hingga Mensesneg yang telah memberikan dukungan penuh kepada Bulog melalui pengurangan suku bunga bank ini," pungkas Rizal.

Kebijakan margin baru dan restrukturisasi bunga kredit ini diharapkan memperkuat ketahanan pangan nasional. Dengan kondisi keuangan yang lebih sehat, Bulog dinilai memiliki kapasitas lebih besar untuk menjaga stabilitas harga beras dan menyalurkan cadangan pangan pemerintah secara tepat sasaran.

Reporter: Zulfahmi Rasyid
Sumber: liputan6.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top