JAMBI — Gangguan kabut asap kembali melumpuhkan aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Thaha Jambi. Dua pesawat yang membawa total 283 penumpang terpaksa mendarat di bandara alternatif setelah jarak pandang anjlok ke angka 800 meter, bahkan sempat mencapai 600 meter pada pukul 15.00 WIB.
Executive General Manager Bandara Sultan Thaha, Ardon Marbun, mengonfirmasi pengalihan rute tersebut merupakan langkah wajib untuk mengutamakan keselamatan. "Jarak pandang sempat turun sampai 800 meter. Untuk keselamatan, dua penerbangan yang menuju Jambi dialihkan ke bandara lain," katanya, Selasa (25/8/2026).
Garuda Indonesia GA 128 yang dijadwalkan tiba pukul 13.40 WIB dialihkan ke Bandara Hang Nadim, Batam, Kepulauan Riau. Pesawat tersebut mengangkut 119 penumpang.
Sementara itu, Citilink QG 966 dengan jadwal kedatangan pukul 15.20 WIB dialihkan ke Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, Sumatera Selatan. Maskapai ini membawa 164 penumpang.
"Saat ini semua sudah stabil dan dua maskapai tadi sudah kembali landing di Bandara Jambi karena jarak pandang sudah membaik," ujar Ardon.
Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Jambi, Jaya Martuah Sinaga, menyebutkan lonjakan titik panas menjadi pemicu utama memburuknya kualitas udara. Data BMKG mencatat terdapat 4.064 titik panas di Jambi sepanjang 2026 hingga 23 Agustus. Khusus pada Agustus saja, terdeteksi 2.059 titik panas, dan pada 23 Agustus tercatat 432 titik panas dalam sehari.
"Musim kemarau tahun ini diprediksi lebih kering dan lebih panjang dari kondisi normal. Karena itu, potensi karhutla masih perlu diwaspadai, terutama di wilayah yang memiliki lahan gambut," jelas Jaya.
Ia menambahkan, "Visibility sempat ngedrop menjadi 600 meter di jam 3 sore tadi, tetapi sekarang sudah menjadi 2000 meter."
Dampak karhutla di Jambi kian meluas. Data terbaru mencatat luasan lahan yang terbakar mencapai 916 hektare dan terus bertambah. Titik panas masih ditemukan di sejumlah wilayah, antara lain Desa Lubuk Kepayang di Kabupaten Sarolangun, Pandan Timur dan Geragai di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, serta Sungai Gelam di Kabupaten Muaro Jambi.
Pemerintah pusat merespons kondisi ini dengan menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Jambi pada 27-30 Agustus 2026. Pesawat pendukung telah disiapkan untuk meningkatkan peluang turunnya hujan di wilayah yang membutuhkan.
Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, saat berkunjung ke Jambi menegaskan komitmennya. "Jambi ini unik karena memiliki gambut yang dalam. Ini yang dikhawatirkan berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan, sehingga tetap diperlukan operasi modifikasi cuaca," katanya.
"Di Jambi sudah siap pesawat untuk melakukan OMC. Kementerian akan mendukung penuh agar hujan bisa turun di Jambi," tegasnya.
Raja Juli juga mengingatkan seluruh pihak untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Tindakan tersebut memperbesar risiko kebakaran, terutama saat lahan kering dan musim kemarau masih berlangsung. Pemerintah daerah diminta tidak ragu meminta bantuan tambahan, termasuk helikopter, jika evaluasi lapangan menunjukkan kebutuhan tersebut.