JAMBI — Jogjastory, jenama fesyen asal Yogyakarta di bawah PT Jayasri Samahita Utama, memperkuat usaha wastranya melalui platform linkumkm by BRI setelah merintis sejak pandemi. Langkah ini menandai pergeseran dari bisnis pre-order rumahan menjadi usaha fesyen berbadan hukum yang memasarkan produk hingga luar Pulau Jawa.
Paragraf pembuka: Platform linkumkm by BRI mencatat lebih dari 17,66 juta pengguna hingga 30 September 2026, dengan 845 modul pembelajaran tersedia bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Di antara pengguna itu ada Sri Utami, pendiri Jogjastory, yang mengaku mendapat wawasan dan pendampingan mentor untuk mengembangkan bisnisnya. Bagi BRI, kasus Jogjastory menjadi contoh bagaimana dukungan UMKM tidak berhenti pada pembiayaan.
Kebiasaan bersepeda saat pandemi memunculkan ide usaha bagi Sri Utami. Ia ingin membuat kemeja yang nyaman dipakai untuk aktivitas tersebut, tetapi tetap bergaya kasual dan urban. Produk awal dipasarkan lewat sistem pre-order.
Seiring bertambahnya peminat, Sri memperluas pilihan produk di luar kemeja. Pada 2023, ia mulai mengurus legalitas usaha dan mengembangkan Jogjastory menjadi bisnis fesyen dengan koleksi lebih beragam. Salah satu produk yang paling diminati pelanggan adalah outer.
“Jogjastory berawal saat pandemi, ketika saya banyak beraktivitas di luar rumah dengan bersepeda. Dari situ muncul ide membuat kemeja yang nyaman dipakai bersepeda, tetapi tetap bergaya kasual dan urban,” ujar Sri, dikutip dari keterangan resmi perusahaan.
Budaya Yogyakarta bukan sekadar inspirasi desain bagi Jogjastory, melainkan bagian dari identitas produk. Motif yang mengangkat cerita daerah dibuat melalui lukisan tangan, lalu didigitalisasi untuk diaplikasikan pada kain katun organik.
Sri juga berkolaborasi dengan perajin lokal untuk menghadirkan lurik dalam koleksinya. Unsur tradisi itu dipadukan dengan desain modern agar bisa dikenakan dalam keseharian, bukan hanya pada acara adat.
Produk Jogjastory dijual melalui konsinyasi di sejumlah hotel dan galeri, pameran, serta kanal digital seperti Tokopedia, Shopee, Instagram, dan WhatsApp. Pelanggannya tersebar di Yogyakarta, berbagai daerah lain, hingga luar Pulau Jawa. Untuk transaksi di pameran, Sri memakai QRIS BRI sebagai pilihan pembayaran.
Usaha Sri kini didukung tiga pekerja. Kendala utama bukan lagi pemasaran, melainkan kapasitas produksi ketika menerima pesanan dalam jumlah besar. Kondisi ini lazim dialami UMKM fesyen yang tumbuh dari skala rumahan.
Sri mengenal linkumkm by BRI melalui Instagram. Ia menilai BRI sebagai bank BUMN yang mendukung UMKM agar bisa maju, tumbuh, dan berkembang hingga naik kelas. “Melalui linkumkm by BRI, saya juga mendapatkan banyak wawasan dan pengetahuan baru dari para mentor,” tuturnya.
Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan, pengembangan UMKM memerlukan dukungan yang tidak hanya mencakup pembiayaan, tetapi juga peningkatan kapasitas dan akses terhadap peluang pasar.
“UMKM yang kuat merupakan fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itu, BRI melalui linkumkm by BRI terus memperluas perannya, bukan hanya sebagai lembaga intermediasi keuangan, tetapi juga sebagai mitra pertumbuhan yang mendorong UMKM untuk semakin terhubung, kompetitif, dan siap menembus pasar yang lebih luas,” kata Dhanny.
Lewat platform itu, pelaku usaha dapat mengikuti asesmen untuk mengenali tingkat perkembangan usaha, mengakses pembelajaran sesuai kebutuhan, serta memperoleh pendampingan mentor. Tiga layanan itu menjadi bekal untuk mengembangkan usaha dan memperluas peluang pasar.
Penutup: Bagi Jogjastory, gabungan wastra Yogyakarta dan desain modern terbukti punya pasar di luar daerah asalnya. Tantangan berikutnya adalah menaikkan kapasitas produksi tanpa melepas ciri handmade yang menjadi nilai jual utama produknya.