Pencarian

Review Film Agensi Rumah Tangga: Komedi Ringan Soal Perempuan dan Dunia Kerja

Minggu, 13 September 2026 • 20:04:31 WIB
Review Film Agensi Rumah Tangga: Komedi Ringan Soal Perempuan dan Dunia Kerja
Enzy Storia memerankan Katia dalam film Agensi Rumah Tangga.

JAMBI — Agensi Rumah Tangga bukan tontonan yang berisik. Film ini mengangkat persoalan sosial yang akrab, terutama soal susahnya cari kerja dan perjuangan perempuan menghidupi diri sendiri maupun keluarga, tapi tidak pernah terasa seperti ceramah.

Naya Anindita memilih jalur ringan untuk membahas isu berat itu. Lewat karakter, situasi, dan kelucuan sehari-hari, penonton diajak menertawakan hal-hal yang sebenarnya bikin pusing.

Sinopsis Singkat: Katia dan Agensi Rumah Tangga

Katia, diperankan Enzy Storia, adalah perempuan yang baru saja kehilangan pekerjaan. Ia kemudian membangun agensi rumah tangga dari nol, sebuah pilihan yang bertabrakan dengan harapan ibunya, diperankan Unique Priscilla.

Sang ibu menganggap pekerjaan sebagai agen rumah tangga bukan karier yang layak dan aman. Sementara Katia keras kepala ingin membuktikan pilihan hidupnya bisa membawa masa depan baik.

Di tengah urusan pekerjaan itu, Katia bertemu Kafka yang diperankan Afgan. Interaksi keduanya bergerak dari urusan profesional menuju kedekatan personal, meski cerita tidak buru-buru menjadikannya romansa.

Kekuatan Komika dan Chemistry Para Pemain

Salah satu daya tarik utama film ini adalah kehadiran para komika. Ada Umi Quary, Ardit Erwandha, Musdalifah Basri, Neneng Wulandari, Kak Kev (Luqman), Mario Caesar dan Niky Putra dari New Pusat Dunia (NPD), serta Vino 'Gubernur Blok M'.

Mereka tidak sekadar memindahkan persona panggung ke layar. Dialog, gestur, dan interaksi antarpemain melebur dalam cerita dan jadi sumber gelak tawa yang menjaga suasana film tetap riuh.

Enzy Storia sendiri tetap tampil memikat sebagai Katia. Karakternya punya banyak alasan untuk mengeluh, tapi Enzy membawanya dengan cara yang ringan dan menyenangkan diikuti. Ada sisi keras kepala, ada idealismenya, ada pula kerentanan perempuan yang sedang mencari pijakan.

Chemistry Enzy dengan Afgan juga mengalir natural. Interaksi Katia dan Kafka tidak dibuat-buat, terutama saat hubungan mereka mulai bergerak dari urusan pekerjaan menuju kedekatan personal.

Kritik Sosial yang Tidak Menggurui

Naskah Ayu Anggraini dan Upi Avianto menyentil kondisi dunia kerja hingga soal gengsi. Termasuk ketika menyinggung peran lelaki yang seharusnya membantu menghidupi keluarga, tapi malah gengsi untuk bekerja.

Semua itu dibungkus humor. Kiasan yang akrab bagi generasi milenial sampai istilah dari tren media sosial Gen Z jadi bahan lelucon. Sebagian besar terasa natural karena lahir dari karakter dan situasi, meski sesekali ada istilah trending yang terasa dipaksakan dan mengganjal.

Upi, Ayu, dan Naya cukup luwes menjaga perpindahan antara persoalan serius dan humor. Film tidak terasa berat saat mulai menyentuh isu pekerjaan dan keluarga.

Visual, Artistik, dan Musik yang Mendukung

Latar artistik garapan Jacobus Dimas membuat dunia agensi ini terasa dekat dengan keseharian. Pilihan busana dan rias turut memperkuat karakter para pemain, termasuk baju-baju para ART yang gemas dan khas.

Tone ringan yang dibangun Naya konsisten lewat visual dan pilihan musik Hariopati Rinanto. Cerita, gambar, dan lagu saling melengkapi.

Yang Masih Terasa Kurang

Keresahan ibunda Katia belum tergali cukup dalam. Setelah anaknya kena PHK, kekhawatiran sang ibu sebenarnya mudah dipahami, apalagi ada cara pandang generasi lama yang menganggap karier aman masih lekat dengan pekerjaan tetap seperti PNS.

Sayangnya, film tidak banyak memperlihatkan apa yang membuat pekerjaan sebagai agen rumah tangga begitu dikhawatirkan. Padahal chemistry Katia dan ibunya justru terasa kuat, benturan mereka sebagai ibu dan anak natural.

Bisa jadi karena bagi sebagian penonton, pilihan Katia menjadi bos para ART bukan hal yang aneh atau keliru. Ekspektasi sang ibu terhadap karier Katia pun terasa belum punya bobot cukup kuat sebagai sumber konflik.

Meski begitu, kekurangan itu tidak membuat Agensi Rumah Tangga kehilangan daya tarik. Film ini tetap tontonan yang nyaman dan menghibur, semacam bakso hangat setelah seharian bekerja.

Follow www.halojambi.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks