JAMBI — Dua data ekonomi utama Provinsi Jambi dirilis dalam waktu berdekatan, menunjukkan potret yang kontras. Di satu sisi, nilai ekspor Jambi melesat signifikan. Namun di sisi lain, inflasi tahunan (year on year) pada Mei lalu tercatat di angka 3,56 persen, berada di atas target inflasi nasional.
Lonjakan ekspor sebesar 68,29 persen ini didorong oleh peningkatan volume dan nilai komoditas unggulan daerah. Batu bara, kelapa sawit dan turunannya, serta karet masih menjadi penyumbang utama devisa dari Jambi. Kenaikan harga komoditas global turut mendongkrak nilai ekspor pada periode tersebut.
Meski data detail komoditas belum dirilis secara spesifik dalam laporan awal, tren kenaikan ini menjadi kabar baik bagi para pelaku usaha dan pekerja di sektor perkebunan serta pertambangan. Peningkatan ekspor berarti putaran uang yang lebih besar di tingkat produsen.
Di luar kabar positif ekspor, inflasi Jambi yang tembus 3,56 persen secara tahunan patut dicermati. Angka ini lebih tinggi dari inflasi nasional yang berada di kisaran 3 persen pada periode yang sama. Tekanan harga terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
“Kenaikan harga beras, cabai merah, dan rokok kretek filter menjadi penyumbang utama inflasi di Jambi,” tulis BPS dalam laporannya. Kondisi ini langsung dirasakan oleh ibu rumah tangga di pasar-pasar tradisional Jambi, seperti Pasar Angso Duo dan Pasar Talang Banio.
Dampak langsung dari kenaikan ekspor memang lebih terasa di sektor hulu. Perusahaan perkebunan dan tambang mendapatkan tambahan pendapatan. Namun, efek berganda (multiplier effect) bisa dirasakan jika perusahaan merekrut lebih banyak tenaga kerja atau meningkatkan aktivitas di sektor logistik dan transportasi lokal.
Sayangnya, lonjakan ekspor belum otomatis menekan inflasi. Permintaan global yang tinggi justru kerap mendongkrak harga komoditas di dalam negeri, termasuk harga minyak goreng sawit yang sempat melonjak beberapa waktu lalu.
Pemerintah Provinsi Jambi diharapkan bisa menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekspor dan stabilitas harga. Inflasi yang tinggi, meskipun ekspor naik, bisa menggerus daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah. Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Jambi perlu menggencarkan operasi pasar dan memperlancar distribusi bahan pokok.
Untuk jangka pendek, tekanan inflasi diperkirakan masih akan terjadi seiring dengan musim kemarau yang mempengaruhi produksi pangan lokal. Namun, momentum kenaikan ekspor bisa dimanfaatkan untuk memperkuat cadangan fiskal daerah.
Ya, inflasi tahunan Provinsi Jambi pada Mei lalu sebesar 3,56 persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang tercatat sekitar 3 persen pada periode yang sama. Kenaikan harga pangan menjadi faktor utama perbedaan ini.
Masyarakat berpenghasilan tetap dan pekerja harian di perkotaan Jambi menjadi kelompok yang paling terdampak. Kenaikan harga beras dan bumbu dapur memaksa mereka mengeluarkan porsi pendapatan lebih besar untuk kebutuhan pokok.
BPS Provinsi Jambi merilis data ini pada awal bulan ini, mencakup kinerja perdagangan hingga periode April dan tingkat inflasi bulan Mei. Data ini menjadi acuan bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan ekonomi selanjutnya.