Harga Sawit di Jambi Naik Jadi Rp3.706 per Kg di Pabrik, Petani Hanya Terima Rp2.700-Rp3.300

Penulis: Said Fauzi  •  Senin, 15 Juni 2026 | 19:48:31 WIB
Harga kelapa sawit di Jambi naik menjadi Rp3.706 per kilogram di tingkat pabrik.

JAMBI — Kenaikan harga kelapa sawit di Jambi periode ini menjadi kabar baik bagi pekebun, meski selisih harga di tingkat pabrik dan petani masih cukup lebar. Harga acuan tertinggi TBS ditetapkan untuk tanaman berumur 10-20 tahun, sementara harga untuk umur lebih muda bervariasi.

Daftar Lengkap Harga TBS Berdasarkan Umur Tanaman

Dinas Perkebunan Provinsi Jambi menetapkan harga TBS untuk periode 12-18 Juni 2026 secara bertingkat sesuai usia pohon. Berikut rinciannya:

  • Umur 3 tahun: Rp2.888,15/kg
  • Umur 4 tahun: Rp3.089,63/kg
  • Umur 5 tahun: Rp3.231,33/kg
  • Umur 6 tahun: Rp3.365,99/kg
  • Umur 7 tahun: Rp3.450,85/kg
  • Umur 8 tahun: Rp3.524,76/kg

Semakin tua usia pohon, semakin tinggi produktivitas dan kualitas buah, sehingga harga yang dibayarkan pabrik pun lebih tinggi.

Harga CPO dan Kernel Ikut Mendorong Kenaikan

Kenaikan harga TBS di pabrik tak lepas dari pergerakan harga turunannya. Harga crude palm oil (CPO) tercatat Rp14.873,24 per kilogram, sementara minyak inti sawit (kernel) dibanderol Rp12.556,75 per kilogram dengan indeks K mencapai 94,622 persen. Kombinasi ini menjadi acuan utama penetapan harga TBS setiap pekan oleh tim penetapan harga provinsi.

Mengapa Harga di Toke Masih Jauh di Bawah Pabrik?

Di tingkat petani, harga jual ke toke atau pengepul biasanya lebih rendah. Selisih ini mencakup biaya transportasi, sortir kualitas, serta margin tengkulak. Untuk periode ini, petani diperkirakan hanya menerima Rp2.700 hingga Rp3.300 per kilogram. Artinya, ada potensi selisih hingga Rp1.000 per kilogram antara harga pabrik dan yang diterima pekebun kecil.

Kondisi ini kerap memicu keluhan petani di daerah seperti Muaro Jambi, Batanghari, dan Tebo, yang lokasi kebunnya jauh dari pabrik pengolahan sawit.

Apa yang Perlu Dilakukan Petani?

Petani disarankan untuk membentuk kelompok tani atau koperasi agar memiliki posisi tawar lebih kuat. Dengan menggabungkan hasil panen, biaya transportasi bisa ditekan dan akses langsung ke pabrik terbuka, sehingga harga jual mendekati harga acuan provinsi. Pemerintah daerah juga terus mendorong perbaikan infrastruktur jalan produksi di sentra-sentra sawit untuk menekan biaya logistik.

Reporter: Said Fauzi
Sumber: jambi.tribunnews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top