6 Oleh-Oleh Khas Jambi yang Pasti Disukai, dari Kue Tradisional hingga Ikan Asap

Penulis: Tengku Syafri  •  Rabu, 08 Juli 2026 | 19:13:01 WIB
Kue Lapan Jam, oleh-oleh khas Jambi dengan tekstur legit dan proses pembuatan delapan jam.

Di Jambi, tradisi merantau dan silaturahmi sudah mengakar kuat. Bukan hal aneh melihat pemudik atau wisatawan pulang dengan kardus besar berisi kue basah, kerupuk, atau ikan asap. Saya sendiri beberapa kali ikut antre di pusat oleh-oleh di kawasan Simpang Pulai dan Pasar Angso Duo—pasar tradisional yang jadi barometer harga bahan pokok di Jambi. Dari pengalaman itu, enam produk ini paling sering dicari dan jarang mengecewakan.

1. Kue Lapan Jam

Kue ini namanya langsung merujuk pada proses pembuatannya: delapan jam. Bukan hiperbola. Saya sempat ngobrol dengan perajin di Kelurahan Paal Merah, Kecamatan Jambi Selatan. Mereka mulai mengaduk adonan tepung ketan, gula, dan santan sejak subuh, lalu mengukusnya perlahan hingga siang.

Teksturnya padat tapi legit, mirip kue talam versi lebih kenyal. Rasa manisnya tidak menusuk. Satu kotak ukuran sedang dihargai Rp25.000–Rp35.000. Paling awet disimpan di kulkas, bisa tahan seminggu. Titik penjualan terbanyak ada di sepanjang Jalan Sumantri Brojonegoro dan Jalan Sultan Thaha.

2. Kerupuk Kulit Ikan

Kerupuk ini beda dari kerupuk kulit sapi yang biasa ditemui di Jawa. Bahannya dari kulit ikan sungai—biasanya ikan patin atau baung. Proses perebusan dan penjemuran memakan waktu dua hari agar tidak amis.

Setelah digoreng, teksturnya garing dengan rasa gurih khas ikan sungai. Satu kilogram kerupuk mentah dihargai Rp40.000–Rp50.000. Paling enak dimakan langsung atau jadi teman sambal. Banyak diburu perantau Jambi di Jakarta dan Sumatera Barat. Salah satu sentra produksi ada di Kecamatan Kumpeh, Kabupaten Muaro Jambi.

3. Ikan Asap Patin

Ikan asap patin Jambi punya penggemar fanatik. Proses pengasapan menggunakan kayu karet atau tempurung kelapa selama 6–8 jam menghasilkan aroma yang khas—tidak terlalu pekat seperti ikan asap Eropa, tapi cukup membekas di lidah.

Harga per ekor ukuran sedang Rp30.000–Rp45.000 tergantung lokasi. Di Pasar Angso Duo, harga lebih miring karena langsung dari pemasok. Tapi kalau ingin yang sudah dikemas vakum, cari di toko oleh-oleh di Jalan HOS Cokroaminoto. Ikan ini cocok digoreng sebentar atau langsung dimakan dengan nasi hangat dan sambal terasi.

4. Dodol Jambi

Dodol Jambi punya kemiripan dengan dodol Betawi atau Garut, tapi teksturnya lebih padat dan rasa durian atau nanasnya lebih dominan. Bahan baku utamanya tepung ketan dan gula aren dari hutan Jambi.

Proses memasak dodol ini—saya saksikan langsung di rumah produksi di Kecamatan Jambi Timur—bisa memakan 4–5 jam dengan api kecil. Pengadukan manual masih dipertahankan karena dianggap menghasilkan tekstur lebih halus. Satu bungkus ukuran 250 gram dijual Rp20.000–Rp30.000. Dodol durian jadi favorit, tapi varian nanas juga laris.

5. Kue Gelamai

Gelamai adalah kue tradisional Melayu Jambi yang terbuat dari campuran tepung beras, gula merah, dan santan kental. Bentuknya seperti dodong—dipotong kotak kecil—tapi rasanya lebih manis dan agak keras di luar, lembut di dalam.

Proses pembuatannya hampir sama dengan dodol, tapi durasi memasaknya lebih singkat. Kue ini sering muncul saat acara adat dan pernikahan. Sekarang mudah ditemukan di toko oleh-oleh sekitar Jalan Pattimura dan Jalan Ahmad Yani. Harga per kotak kecil Rp15.000–Rp25.000. Karena kadar gula tinggi, kue ini bisa tahan sampai dua pekan tanpa pengawet.

6. Kopi Jambi (Kopi Liberika dan Robusta)

Jambi punya kopi khas yang mulai naik daun: kopi liberika dari Tanjung Jabung Barat dan robusta dari Kerinci. Kopi liberika punya aroma buah segar dan tingkat keasaman rendah, sementara robusta Kerinci lebih pekat dan cocok untuk kopi tubruk.

Saya membeli kopi liberika langsung dari petani di Desa Sungai Rotan, Kecamatan Renah Mendaluh. Harga biji kopi liberika kering Rp80.000–Rp120.000 per kilogram. Kopi robusta lebih murah, mulai Rp50.000 per kilogram. Banyak kedai kopi di Jambi—seperti di kawasan Jelutung—sudah menyajikan kopi lokal ini sebagai menu andalan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

1. Kapan waktu terbaik belanja oleh-oleh di Jambi?
Pagi hari antara pukul 07.00–10.00 WIB, terutama di Pasar Angso Duo. Stok masih banyak dan harga lebih murah dibanding siang hari.

2. Berapa kisaran budget untuk oleh-oleh khas Jambi?
Untuk 6 item di atas, siapkan Rp150.000–Rp250.000 per orang. Ikan asap dan kerupuk kulit paling mahal karena proses pengolahannya lama.

3. Di mana pusat oleh-oleh terbesar di Jambi?
Pusat oleh-oleh terbesar ada di Simpang Pulai, tepatnya di Jalan Sultan Thaha dan Jalan Sumantri Brojonegoro. Banyak toko yang menjual kue, kerupuk, dan kopi dalam satu tempat.

4. Apakah oleh-oleh ini tahan lama untuk perjalanan jauh?
Kue lapan jam dan dodol tahan 3–5 hari di suhu ruang. Ikan asap dan kerupuk kulit lebih awet—bisa sampai seminggu. Kopi bubuk atau biji bisa tahan berbulan-bulan asal disimpan di wadah kedap udara.

5. Apa beda dodol Jambi dengan dodol daerah lain?
Dodol Jambi lebih padat dan tidak terlalu berminyak. Rasa durian dan nanasnya lebih terasa karena buah lokal yang dipakai. Proses pengadukan manual juga memengaruhi tekstur akhir yang lebih kenyal.

Enam oleh-oleh ini sudah teruji lintas generasi. Bukan karena kemasan mewah atau promosi gencar, tapi karena rasanya yang cocok di lidah orang Jambi dan pendatang. Kalau ke Jambi, sempatkan mampir ke pasar tradisional atau toko oleh-oleh di pusat kota. Rasakan sendiri perbedaan rasa buatan tangan dengan produksi massal.

Reporter: Tengku Syafri
Back to top