JAKARTA — Tekanan terhadap rupiah kian nyata di tengah memanasnya konflik geopolitik global. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebut serangan AS terhadap Iran sebagai katalis utama yang mendorong pelemahan mata uang Garuda.
“Komando Pusat AS (Centcom) mengatakan telah memulai serangkaian serangan terhadap Iran, yang bertujuan untuk memberikan apa yang digambarkan sebagai ‘biaya berat’ atas serangan Teheran terhadap pelayaran komersial,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu.
Eskalasi yang terus berlanjut memicu kekhawatiran serius di pasar. Selat Hormuz, jalur air vital bagi pengiriman minyak dunia, kembali menjadi pusat ketegangan setelah Iran dilaporkan menyerang kapal-kapal yang mencoba melintas pekan ini. Situasi ini langsung memicu spekulasi tentang gangguan pasokan energi global.
“Babak permusuhan terbaru berpotensi merusak kesepakatan tersebut, dengan pembicaraan perdamaian di masa depan antara kedua negara kini tampak tidak pasti,” tambah Ibrahim.
Selain faktor militer, rupiah juga tertekan oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun naik 5,5 basis poin menjadi 4,525 persen. Meski pasar masih skeptis terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada Juli, probabilitas kenaikan pada September mendekati 60 persen berdasarkan alat pantau CME FedWatch Tool.
Para pelaku pasar kini mengalihkan perhatian ke notulen rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) edisi Juni yang akan dirilis Kamin dini hari pukul 01.00 WIB. Dokumen tersebut diyakini bisa memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS.
Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia turut bergerak melemah ke level Rp18.005 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp17.988 per dolar AS. Data ini mengonfirmasi tekanan yang meluas terhadap rupiah di pasar domestik.