JAMBI — Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax sebesar 32 persen, dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter, diprediksi mengubah pola belanja kelas menengah di Jambi. Kelompok ini disebut paling terdampak karena tidak mendapat bantalan fiskal seperti penerima bantuan sosial.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (Unair) Rahma Gafmi menjelaskan, mayoritas konsumen Pertamax adalah kelas menengah hingga menengah atas. Ketika harga naik, pendapatan yang bisa dibelanjakan (disposable income) otomatis menyusut.
“Akan berdampak pada penundaan belanja non-esensial, seperti rumah tangga kelas menengah kemungkinan besar akan menahan atau mengurangi konsumsi pada sektor sekunder dan tersier, seperti liburan, hiburan, food and beverage atau makan di luar, atau barang elektronik,” kata Rahma saat dihubungi Antara di Jakarta, Jumat.
Efek Domino ke Sektor Usaha dan Inflasi
Meski bukan bahan bakar utama logistik barang pokok, kenaikan harga Pertamax tetap berpotensi meningkatkan biaya operasional sejumlah pelaku usaha. Sektor jasa kurir, pengemudi ojek online, hingga UMKM kuliner yang menggunakan kendaraan pribadi untuk berbelanja bahan baku disebut paling rentan.
“Apabila kenaikan biaya operasional tersebut diteruskan kepada konsumen akhir, harga barang dan jasa di tingkat ritel berpotensi meningkat,” ujar Rahma. Hal ini, lanjutnya, bisa menambah tekanan terhadap inflasi inti dan menggerus daya beli riil rumah tangga secara lebih luas.
Namun, Rahma menilai dampak terhadap inflasi umum masih relatif terbatas. “Meskipun persentase kenaikannya masif, efek dominonya terhadap inflasi umum tetap terkendali karena bukan kenaikan pada sektor logistik. Walaupun ada kira-kira cuma 0,1 persen saja,” kata dia.
Proyeksi Inflasi Juni 2026: Bisa Tembus 4 Persen
Rahma memperkirakan inflasi pada Juni 2026 berada dalam tekanan yang cukup kuat. Sektor transportasi menjadi salah satu trigger utama yang berpotensi mendorong inflasi umum (consumer price index/CPI) merangkak naik.
“Proyeksi inflasi pada Juni 2026 ini berada dalam tekanan yang cukup kuat. Dinamika sektor transportasi menjadi salah satu trigger utama yang berpotensi mendorong inflasi umum (CPI) merangkak naik hingga mendekati atau bahkan menembus kisaran 4 persen secara tahunan (yoy), meningkat dari posisi Mei yang berada di level 3,08 persen (yoy),” jelas Rahma.
Tekanan ini datang pada saat yang kurang ideal karena bertepatan dengan tahun ajaran baru yang biasanya meningkatkan pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan pendidikan. Kelas menengah harus menyerap sepenuhnya kenaikan biaya hidup secara mandiri di tengah pertumbuhan gaji yang cenderung stagnan.
Sementara itu, sektor transportasi umum dan logistik berat masih menggunakan BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar. Hal ini membuat kenaikan harga Pertamax tidak serta-merta memicu lonjakan inflasi nasional secara ekstrem.