JAMBI — Iran menjadi tim dengan pengalaman paling pahit di Piala Dunia 2026. Meski turnamen digelar di AS, skuad asuhan Ghalenoei dipaksa bermarkas di Meksiko dan hanya diizinkan masuk wilayah AS beberapa jam sebelum kick-off.
Pertama Lawan Selandia Baru: Hanya Beberapa Jam di AS
Pada laga perdana melawan Selandia Baru, rombongan Iran tiba di AS hanya beberapa jam sebelum pertandingan dimulai. Begitu peluit panjang berbunyi, mereka langsung diperintahkan keluar dari AS.
Ghalenoei melaporkan situasi ini ke Presiden FIFA Gianni Infantino. Infantino berjanji akan memberikan fasilitas lebih baik untuk laga selanjutnya.
Lawan Belgia: Waktu 16 Jam dengan Pengawasan Super Ketat
Menjelang duel melawan Belgia, Iran mendapat kelonggaran—bisa masuk AS sehari sebelum laga, tapi tak sampai 24 jam. Tepatnya, mereka hanya diberi waktu 16 jam.
Selama masa persiapan itu, tim pengamanan AS mengawasi pergerakan Mehdi Taremi dan kawan-kawan secara ketat. Ghalenoei menyebut kondisi ini membuat fokus pemain terganggu.
Seruan Ghalenoei: Diam Bukan Berarti Setuju
"Saya meminta kepada 47 pelatih lainnya, dan tidak satu pun dari mereka yang menjawab saya," kata Ghalenoei, dikutip dari Yahoo News.
Pelatih berusia 60 tahun itu menegaskan, protesnya murni soal perlakuan, bukan soal politik. "Kami di sini untuk sepak bola, bukan politik, dan kita menegaskan itu lagi. Keluhan kita adalah tentang cara mereka [AS] memperlakukan kami," ujarnya.
Ghalenoei memahami semua pelatih sedang fokus pada tim masing-masing. Tapi ia berharap solidaritas tetap ada. "Jika saya melihat tim lain diperlakukan seperti kita, saya akan mengatakan sesuatu," tegasnya.
FIFA Janji Perbaiki Fasilitas, Tapi Nasib Iran Belum Jelas
Infantino sudah berjanji memberikan akomodasi lebih baik untuk sisa turnamen. Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada perubahan signifikan yang dirasakan Iran.
Iran kini menjalani Piala Dunia 2026 dengan status tim buangan di negara tuan rumah sendiri—tinggal di Meksiko, bermain di AS, dan diawasi ketat seperti tersangka.