Pencarian

Micron Melejit 236% dalam Sebulan, Valuasi Sempat Salip Meta dan Tesla Berkat AI

Senin, 29 Juni 2026 • 10:12:31 WIB
Micron Melejit 236% dalam Sebulan, Valuasi Sempat Salip Meta dan Tesla Berkat AI
Saham Micron Technology melonjak 236% dalam sebulan, mencapai Rp 18,47 juta per lembar.

JAMBI — Micron Technology, perusahaan chip memori yang bermarkas di Boise, Idaho, mencatatkan lonjakan harga saham fenomenal sepanjang bulan lalu. Sahamnya ditutup di level Rp 18,47 juta (US$ 1.132) per lembar pada Jumat pekan lalu, melesat 236% dalam 30 hari terakhir. Bandingkan dengan posisi sahamnya yang bertahun-tahun terdampar di bawah Rp 1,63 juta (US$ 100).

Valuasi Sempat Salip Meta dan Tesla

Kapitalisasi pasar Micron sempat menyentuh Rp 20.741 triliun pada Kamis (pekan lalu), untuk pertama kalinya mengungguli Meta (Rp 22,7 triliun) dan Tesla (Rp 23,2 triliun). Meski turun tipis pada Jumat dengan valuasi Rp 20,7 triliun, angka ini tetap mencengangkan untuk perusahaan yang produknya identik dengan kartu memori kecil untuk PC dan ponsel jadul.

Kenaikan ini bukan tanpa alasan. Micron melaporkan pendapatan kuartal ketiga yang mencetak rekor: Rp 676,7 triliun (US$ 41,45 miliar), empat kali lipat dibanding periode sama tahun lalu. Laba bersihnya meroket dari Rp 30,7 triliun menjadi Rp 460,3 triliun. Untuk kuartal keempat, Micron memproyeksikan pendapatan antara Rp 800 triliun hingga Rp 833 triliun.

RAMageddon: Krisis Chip Memori Akibat AI

Fenomena ini dijuluki "RAMageddon" oleh analis industri. Penyebabnya sederhana: satu server AI modern membutuhkan kapasitas memori puluhan kali lipat dibanding laptop biasa. Produsen sistem AI seperti Nvidia, Microsoft, Amazon AWS, Google, Meta, dan Oracle berlomba memborong chip memori, khususnya High-Bandwidth Memory (HBM) buatan Micron.

Akibatnya, pasokan DRAM dan NAND—dua jenis memori utama buatan Micron—menjadi langka. Perusahaan lain seperti Dell, HP, dan produsen gawai terpaksa ikut menimbun stok. Kelangkaan ini diprediksi analis akan bertahan hingga 2027 dan sudah mendorong kenaikan harga produk konsumen seperti iPhone dan konsol Xbox.

Strategi Jangka Panjang Micron untuk Hindari "Boom-Bust"

Masalah klasik industri chip memori adalah siklus "boom-bust": ketika permintaan tinggi, pabrik dibangun besar-besaran, tapi begitu kapasitas produksi jadi, permintaan justru turun dan harga ambruk. Micron mengklaim telah mengantisipasi hal ini dengan meneken 16 perjanjian pasokan jangka panjang (strategic customer agreements/SCA) di segmen data center, konsumen, dan otomotif.

Dua di antaranya adalah dengan Nvidia dan laboratorium AI Anthropic. "Pertumbuhan permintaan terus melampaui kecepatan pembangunan ruang bersih (cleanroom) baru," tulis analis William Blair, Sebastien Naji, dalam risetnya. "Dengan kemungkinan kuat harga jual rata-rata (ASP) terus naik dan visibilitas pendapatan meningkat berkat SCA, kami melihat potensi pertumbuhan laba yang lebih tahan lama."

Meski optimisme Wall Street menggebu, ujian sesungguhnya adalah apakah Micron bisa mempertahankan momentum tanpa terjebak siklus kelebihan pasokan. Untuk saat ini, perusahaan chip memori asal AS ini berhasil membuktikan bahwa di era AI, "pabrik memori" bisa menjadi primadona baru di bursa saham.

Bagikan
Sumber: techcrunch.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks