JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berhasil ditutup di zona hijau pada perdagangan Rabu, menguat 0,92 persen. Momentum ini sejalan dengan mayoritas bursa saham Asia yang juga mencatatkan penguatan.
Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus alias Nico, mengatakan penguatan IHSG ditopang oleh pergerakan positif bursa regional. Namun, ia mencatat pasar masih mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat (AS) dengan Iran.
"Pasar menantikan perkembangan hubungan AS dengan Iran," ujar Nico dalam kajiannya, Rabu.
Utusan AS Tiba di Qatar, Mediator Meredam Ekspektasi
Dari mancanegara, pelaku pasar menanti hasil perundingan antara AS dan Iran yang tengah berlangsung di Doha, Qatar. Utusan Presiden AS Donald Trump telah tiba di lokasi pada Selasa (30/6) waktu setempat.
Meski demikian, mediator Qatar meredam ekspektasi akan adanya terobosan besar. Pejabat AS dikabarkan tidak akan bertemu langsung dengan delegasi Iran. Kedua negara disebut masih berupaya mencapai resolusi permanen atas konflik yang memengaruhi lalu lintas maritim di jalur strategis.
Data Domestik Lesu: Manufaktur Kontraksi, Inflasi Naik, Defisit Dagang
Di sisi lain, kenaikan IHSG tetap terbebani oleh sejumlah data ekonomi domestik yang kurang menggembirakan. Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Global S&P Indonesia turun tajam ke level 46,9 pada Juni 2026, dari sebelumnya 50,0 pada Mei 2026. Angka ini merupakan level terendah sejak Juni 2025 dan menandai kontraksi kedua sektor manufaktur tahun ini.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi bulan Juni 2026 mencapai 0,44 persen secara bulanan. Secara tahunan, inflasi tercatat sebesar 3,34 persen year on year. Kenaikan ini dipicu oleh siklus musiman, kenaikan bahan baku, serta harga BBM.
Lebih lanjut, neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mencatat defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS. Ini merupakan defisit pertama dalam enam tahun terakhir.
"Hal ini menunjukkan belum berdampaknya upaya menaikkan suku bunga acuan Bank Indonesia dalam mengendalikan inflasi. Kondisi ini mendorong BI aktif menjaga nilai rupiah," ujar Nico.
Delapan Sektor Menguat, Barang Baku Pimpin Kenaikan
Secara sektoral, delapan dari sebelas indeks sektoral IDX-IC menguat. Sektor barang baku memimpin dengan kenaikan 2,81 persen, disusul sektor energi yang naik 2,63 persen dan sektor infrastruktur yang menguat 1,39 persen.
Tiga sektor lainnya justru melemah. Sektor transportasi dan logistik turun paling dalam, minus 0,69 persen, diikuti sektor barang konsumen primer dan sektor keuangan yang masing-masing turun 0,35 persen dan 0,33 persen.
Saham-saham dengan penguatan terbesar antara lain COCO, BBRM, PADI, BEEF, dan CSMI. Sementara itu, saham yang mengalami pelemahan paling dalam adalah RGAS, MMIX, MTLA, MSKY, dan RONY.
Total frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.542.000 kali transaksi dengan volume saham diperdagangkan mencapai 17,06 miliar lembar senilai Rp10,26 triliun. Sebanyak 391 saham naik, 263 saham menurun, dan 305 saham stagnan.
Di kawasan Asia, indeks Nikkei menguat 0,60 persen ke 70.486,00, Shanghai naik 0,44 persen ke 4.112,45, dan Shenzen menguat 0,39 persen ke 2.851,81. Sementara itu, indeks Strait Times melemah tipis 0,11 persen ke 5.202,48.