JAMBI — Keputusan harga BBM non subsidi untuk Juli 2026 akan ditentukan dua variabel utama: rata-rata harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah. Mengacu pada Keputusan Menteri ESDM Nomor 19 K/10/MEM/2019, formula harga dasar memakai rata-rata publikasi Mean of Platts Singapore (MOPS) periode 25 bulan kedua sebelumnya sampai 24 bulan sebelumnya.
Data Refinitiv menunjukkan harga minyak Brent rata-rata Juni 2026 berada di US$84,4 per barel, anjlok 18,62 persen dibanding rata-rata Mei. Sementara West Texas Intermediate (WTI) rata-rata US$81,58 per barel pada Juni, terkoreksi 17,11 persen dari bulan sebelumnya yang menyentuh US$98,42 per barel.
Tekanan Mereda Usai Damai AS-Iran
Dinamika harga minyak sepanjang Juni banyak dipengaruhi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Nota kesepahaman ditandatangani di Swiss pada Minggu (14/6/2026) dengan dua poin utama: penghentian permanen perang di semua front dan pencabutan blokade laut AS terhadap Iran.
Pencabutan blokade jadi sinyal paling signifikan bagi pasar. Selat Hormuz—rute distribusi minyak dunia—kembali terbuka untuk arus tanker. Presiden AS Donald Trump memerintahkan pencabutan segera blokade kapal perang Angkatan Laut AS. Pelaku pasar yang sebelumnya memasukkan premi risiko perang ke harga minyak mulai melepas tekanan itu.
Rupiah Melemah Tipis, Ruang Turun Masih Terbuka
Nilai tukar rupiah masih tertekan sepanjang Juni, tapi pelemahannya jauh lebih terbatas dibanding bulan-bulan sebelumnya. Rupiah hanya melemah 0,17 persen sejak awal Juni hingga perdagangan intraday Selasa (30/6/2026) di level Rp17.893 per dolar AS.
Rata-rata harga minyak Brent dua bulan terakhir (Mei-Juni) di US$93,83 per barel turun 8,98 persen dibanding rata-rata April-Mei yang mencapai US$103 per barel. Rata-rata WTI juga merosot 8,58 persen dari US$98,24 menjadi US$89,81 per barel. Pelemahan ini membuka ruang turunnya biaya impor minyak nasional.
Kenapa Pertamax Bisa Ditahan Lagi?
Meski ada peluang penurunan, pemerintah juga bisa mempertahankan harga BBM non subsidi khususnya RON 92 atau Pertamax. Alasannya, harga BBM non subsidi pernah ditahan saat harga minyak acuan global naik usai perang AS-Iran pecah pada 28 Februari 2026, sebelum akhirnya disesuaikan pertengahan Juni 2026.
Kenaikan harga Pertamax pada 10 Juni 2026 menjadi Rp16.250 per liter dinilai masih di bawah harga keekonomian. Harga pasar RON 92 diperkirakan masih berkisar Rp19.000-Rp20.000 per liter. Artinya, pemerintah punya ruang fiskal untuk tidak menurunkan harga meski biaya impor turun.
Catatan Penyesuaian BBM Juni 2026
Pertamina sudah dua kali menyesuaikan harga BBM non subsidi pada Juni 2026. Per 1 Juni, Pertamax Turbo RON 98 di DKI Jakarta naik menjadi Rp20.750 per liter dari Rp19.900 per liter. Namun BBM diesel non subsidi justru turun: Dexlite menjadi Rp23.000 per liter dari sebelumnya Rp26.000 per liter, dan Pertamina Dex turun menjadi Rp24.800 per liter dari Rp27.900 per liter.
Kala itu Pertamina masih menahan Pertamax RON 92 di Rp12.300 per liter dan Pertamax Green 95 di Rp12.900 per liter. Baru pada 10 Juni, Pertamax RON 92 naik menjadi Rp16.250 per liter dan Pertamax Green 95 menjadi Rp17.000 per liter. Ini penyesuaian pertama untuk RON 92 dan Pertamax Green setelah harga minyak melonjak sejak Maret 2026.
Keputusan akhir harga BBM non subsidi per 1 Juli 2026 akan diumumkan pemerintah dalam waktu dekat. Konsumen bisa bersiap dua kemungkinan: harga turun atau tetap seperti posisi saat ini.