BUNGO — Aksi penertiban tambang ilegal di pedalaman Jambi berujung penyanderaan aparat. Tim gabungan Polres Bungo dan Polsek Pelepat yang turun ke lokasi PETI di Desa Batu Kerbau, Kecamatan Pelepat, justru dihadang dan dikepung sekitar 600 warga Desa Belukar Panjang pada Minggu sore.
Kabid Humas Polda Jambi Kombes Pol Kuswahyudi Tresnadi mengonfirmasi bahwa 15 personel yang sempat disandera berhasil dibebaskan pada Senin (11/5/2020) dini hari pukul 02.30 WIB. "Seluruh personel dalam keadaan sehat dan selamat. Kapolsek Pelepat yang mengalami luka tusuk sudah mendapat penanganan medis," ujarnya.
Penertiban berawal dari unggahan warga di grup Facebook 'Bungo Bebas Bicara' pada 7 Mei 2020 yang melaporkan aktivitas PETI di Desa Batu Kerbau. Tim Tipidter Polres Bungo dan Polsek Pelepat kemudian melakukan penyelidikan pada 8 Mei dan menemukan alat berat di lokasi tambang pada Minggu (10/5) pukul 09.00 WIB.
Saat tim hendak keluar dari area tambang melewati Desa Belukar Panjang, mereka dihadang massa gabungan laki-laki dan perempuan. Dua unit kendaraan dinas dirusak—kaca pecah dan ban rusak. Kapolsek Suhendri ditusuk di bagian bokong dan berhasil dievakuasi delapan personel ke camp PT Prima Mas Lestari (PML). Tujuh personel lainnya dan Kapolsek yang sudah terluka sempat berada dalam penguasaan warga.
Kapolres Bungo AKBP Tri Saksono Puspo Aji langsung memimpin evakuasi pada Minggu pukul 23.15 WIB. Tim gabungan dari Polres Bungo, Subdit IV Ditreskrimsus Polda Jambi, dan Kodim Muaro Bungo bergerak menuju Desa Belukar Panjang. Setibanya pukul 02.28 WIB, massa sudah membubarkan diri dan hanya menyisakan beberapa tokoh masyarakat.
Kades Batu Kerbau Efendi (29), Kades Dusun Baru Kholid (47), anggota BPD Hasan Rawi, serta tokoh masyarakat Muhammad Zaki (47) dan ketua pemuda Yusman (32) dimintai keterangan sebagai saksi. "Setelah bernegosiasi, seluruh personel dalam keadaan sehat," kata Kuswahyudi.
Polda Jambi memastikan akan menindak tegas seluruh pelaku PETI di kawasan tersebut dan menyelidiki kasus penyanderaan. "Situasi saat ini sudah kondusif di bawah penjagaan Kepolisian dan TNI," ujar Kuswahyudi.
Peristiwa ini menjadi pengingat betapa rawan dan kompleksnya penertiban tambang ilegal di daerah-daerah yang menjadi kantong PETI, di mana aparat berhadapan langsung dengan warga yang menggantungkan hidup pada aktivitas tanpa izin tersebut.