JAMBI — Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Agama, telah mengoordinasikan serangkaian agenda dengan Kedutaan Besar Jerman jelang lawatan kenegaraan tersebut. Persiapan teknis dilakukan dengan peninjauan langsung ke titik-titik lokasi yang akan dikunjungi Presiden Steinmeier dan Ibu Negara di kompleks Masjid Istiqlal pada Jumat (12/6/2026).
Menampilkan Simbol Toleransi di Pusat Ibu Kota
Gugun Gumilar, bersama tim dari Kedubes Jerman, berkeliling area Masjid Istiqlal untuk memastikan rangkaian kunjungan berjalan lancar. Agenda ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menyoroti diplomasi agama dan hidup berdampingan secara damai.
“Kunjungan ini diharapkan semakin memperkuat hubungan Indonesia-Jerman sekaligus menunjukkan model unik Indonesia dalam dialog, toleransi, dan kerja sama antar komunitas agama yang berbeda sebagai jembatan untuk pemahaman internasional dan perdamaian global,” ujar Gugun dalam pernyataannya.
Sinergi Tiga Lembaga: Istiqlal, Katedral, dan Kemenag
Menurut Gugun, persiapan kunjungan ini melibatkan koordinasi antara pengelola Masjid Istiqlal, Gereja Katedral Jakarta, dan Kementerian Agama. Ketiga institusi ini tengah merancang program bersama yang akan disorot selama lawatan Presiden Jerman.
Pilihan Masjid Istiqlal sebagai lokasi kunjungan dinilai strategis. Bangunan ikonik itu berdiri tepat berseberangan dengan Gereja Katedral Jakarta, sebuah tata ruang yang kerap dijadikan contoh nyata harmoni antaragama di Indonesia.
Mengapa Kunjungan Ini Penting bagi Hubungan Bilateral
Lawatan Presiden Frank-Walter Steinmeier ke Jakarta merupakan bagian dari rangkaian diplomasi tingkat tinggi yang telah direncanakan sejak awal tahun. Bagi Indonesia, kunjungan ini menjadi kesempatan untuk memperkuat kemitraan dengan salah satu negara Eropa yang memiliki pengaruh besar di Uni Eropa.
Diplomasi agama atau religious diplomacy menjadi salah satu pilar yang ingin ditonjolkan pemerintah. Dengan menunjukkan praktik toleransi yang konkret, Indonesia berharap dapat menarik lebih banyak kerja sama di bidang pendidikan dan kebudayaan dengan Jerman.
“Model Indonesia ini bisa menjadi jembatan untuk pemahaman internasional dan perdamaian global,” tambah Gugun, menekankan nilai strategis dari agenda kunjungan tersebut.
Jadwal dan Rangkaian Kegiatan
Presiden Steinmeier dijadwalkan tiba di Jakarta pada Senin (15/6/2026). Setelah kunjungan ke Istiqlal, agenda diplomatik lainnya termasuk pertemuan bilateral dengan Presiden RI dan kunjungan ke sejumlah pusat kebudayaan di Jakarta.
Pemerintah optimistis kunjungan ini tidak hanya akan mempererat hubungan diplomatik, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai model demokrasi dan toleransi di kawasan Asia Tenggara.