JAMBI — Perumdam Tirta Mayang Kota Jambi terpaksa menurunkan kapasitas produksi air bersih untuk menjaga kualitas air yang disalurkan ke pelanggan. Langkah ini diambil menyusul tingginya tingkat kekeruhan air baku di Sungai Batanghari yang dipicu musim kemarau berkepanjangan.
Direktur Utama Perumdam Tirta Mayang, Arianto, mengibaratkan kondisi ini seperti membuat kopi. Jika air yang digunakan terlalu sedikit atau keruh, maka hasilnya tidak akan sesuai standar.
"Karena itu kami mengurangi debit produksi agar proses pengolahan tetap menghasilkan air yang memenuhi standar kualitas," ujarnya, Senin (26/8/2024).
Pengurangan Debit Naik Dua Kali Lipat dari Sebelumnya
Kebijakan ini bukan tanpa pertimbangan. Sebelumnya, saat kekeruhan mulai meningkat namun belum parah, Perumdam hanya memangkas produksi sekitar 10 persen. Kini, angka tersebut naik dua kali lipat menjadi 20 persen.
Penurunan kapasitas produksi ini otomatis memangkas jam pelayanan di sejumlah wilayah yang selama ini dilayani oleh Instalasi Pengolahan Air (IPA) Broni dan IPA Tanjung Sari.
18 Kelurahan Terdampak, Berikut Daftarnya
Sebanyak 5.300-an sambungan rumah (SR) dipastikan merasakan dampak pengurangan pasokan air ini. Kondisi tersebut diperkirakan berlangsung hingga September mendatang, menyesuaikan perkembangan musim kemarau.
Wilayah yang mengalami gangguan layanan meliputi:
- Kecamatan Telanaipura: Kelurahan Telanaipura, Legok, Selamat, Sungai Putri, Solok Sipin, Danau Sipin, Beliung, Cempaka Putih, dan Jelutung
- Kecamatan Jambi Timur: Kelurahan Handil Jaya, Kebun Handil, Sukakarya, dan Simpang III Sipin
- Kecamatan Jambi Selatan: Kelurahan Pasir Putih, Thehok, Wijayapura, Takang Bakung, dan Bakung Jaya
Status Sungai Masih Normal, Tapi Dinamis
Arianto menjelaskan, kondisi muka air Sungai Batanghari saat ini masih berada pada status normal hingga waspada. Namun, karakteristik sungai pada musim kemarau sangat dinamis sehingga tingkat kekeruhan bisa meningkat sewaktu-waktu tanpa pola yang pasti.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Perumdam Tirta Mayang tidak tinggal diam. Sejumlah langkah antisipasi telah disiapkan, di antaranya:
- Menyiagakan armada mobil tangki untuk distribusi air bersih gratis ke wilayah terdampak
- Menyiapkan pompa bergerak (mobile pump) yang dapat mengikuti perubahan tinggi muka air sungai
- Melakukan pemasangan pipa intake untuk menjaga pasokan air baku
Biaya Produksi Disebut Masih Normal
Meski terjadi peningkatan kekeruhan, Arianto memastikan biaya produksi untuk penjernihan air masih berada pada standar normal. Proses pengolahan mulai dari air baku di filter hingga pendistribusian tetap berjalan seperti biasanya.
"Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan pelanggan. Langkah ini kami ambil agar kualitas air yang diterima masyarakat tetap terjaga," jelas Arianto.
Pihaknya juga terus berupaya meminimalkan dampak melalui distribusi air bersih dan berbagai langkah antisipasi lainnya selama musim kemarau berlangsung.