JAKARTA — Pergerakan rupiah pekan ini tidak lepas dari dua tekanan yang saling tarik: sentimen positif dari pasar global melawan sinyal perlambatan konsumsi di dalam negeri. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai penguatan kurs hari ini lebih banyak ditopang faktor eksternal, sementara fundamental domestik masih menunjukkan kehati-hatian.
Bank Indonesia (BI) mencatat IKK Juli 2026 berada di angka 116,8, turun dari 117,8 pada Juni 2026. Ini merupakan penurunan ketiga secara berturut-turut, menandakan konsumen mulai menahan belanja dan lebih selektif dalam mengalokasikan pendapatan.
Level Optimistis Mulai Tergerus, Belanja Rumah Tangga Terancam
Meski masih berada di atas level 100 yang berarti optimistis, tren penurunan tiga bulan terakhir menjadi perhatian tersendiri. Jika berlanjut, ruang pertumbuhan konsumsi rumah tangga bisa ikut tertekan.
"Konsumen secara umum masih optimistis terhadap kondisi ekonomi, meski tingkat keyakinannya terus menurun dalam tiga bulan terakhir," ucap Ibrahim dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin.
Ia menambahkan, perkembangan IKK pada bulan-bulan berikutnya akan menjadi penentu seberapa kuat daya tahan konsumsi domestik di tengah berbagai tantangan ekonomi.
Katalis Global: Selat Hormuz dan Sikap Baru The Fed
Dari sisi eksternal, muncul harapan Iran dan Oman segera mencapai kesepakatan yang berujung pada pembukaan kembali Selat Hormuz. Meski demikian, Iran menegaskan jalur pelayaran tersebut baru akan dibuka setelah Washington memenuhi syarat-syarat tertentu, termasuk pemberian kompensasi atas serangan-serangan yang terjadi.
Di Amerika Serikat, meredanya kekhawatiran inflasi mendorong pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (Fed). Data ketenagakerjaan yang lemah turut memperkuat pandangan tersebut.
"Apalagi, bersama dengan angka ketenagakerjaan yang lemah, hal ini semakin mengurangi ekspektasi bahwa Fed akan menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang," kata Ibrahim.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan September kini hanya sekitar 42 persen, turun signifikan dari 67 persen pekan lalu.
Calon Gubernur BI dan Data Inflasi AS Jadi Sorotan Pekan Ini
Sentimen lain datang dari politik moneter nasional. Presiden RI Prabowo Subianto resmi mengajukan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI definitif kepada DPR RI melalui Surat Presiden (Surpres). Penunjukan ini menjadi perhatian pelaku pasar karena menentukan arah kebijakan bank sentral ke depan.
Sepanjang pekan ini, pasar akan mengamati rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) AS untuk bulan Juli pada Rabu (12/8). Para ekonom memperkirakan inflasi turun tipis dari 3,5 persen menjadi 3,4 persen secara tahunan, dengan CPI inti juga turun dari 2,6 persen menjadi 2,5 persen.
Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia hari ini ikut menguat ke level Rp17.795 per dolar AS, dari sebelumnya Rp17.913 per dolar AS.