JAMBI — Pergerakan harga pangan di Jambi pada Selasa (11/8/2026) sore menunjukkan tren beragam. Dari 16 komoditas yang dipantau melalui Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok Kementerian Perdagangan (SP2KP Kemendag), hanya satu komoditas yang mengalami kenaikan, sementara lima lainnya tercatat turun dan sepuluh komoditas harganya stagnan.
Kenaikan hanya terjadi pada bawang merah yang melonjak Rp 182 atau 0,63 persen menjadi Rp 29.106 per kilogram. Kenaikan ini berbanding terbalik dengan harga cabai yang justru kompak turun pada hari yang sama.
Cabai Rawit Merah Turun Paling Tajam, Daging Ayam Ikut Melemah
Cabai rawit merah menjadi komoditas dengan penurunan harga terbesar. Harganya susut Rp 1.037 atau 1,83 persen menjadi Rp 55.704 per kilogram dibandingkan hari sebelumnya.
Penurunan juga terjadi pada cabai merah besar yang turun 1,66 persen menjadi Rp 38.167 per kg, disusul cabai merah keriting yang melemah 1,37 persen ke level Rp 38.333 per kg. Sementara itu, harga daging ayam ras tercatat turun tipis 0,11 persen menjadi Rp 41.909 per kg.
Harga Beras Premium dan 10 Komoditas Lainnya Stagnan
Beras premium di Jambi tercatat mengalami penurunan tipis sebesar 0,03 persen menjadi Rp 15.138 per kg. Adapun beras medium masih bertahan di harga Rp 13.540 per kg.
Sejumlah kebutuhan pokok lainnya terpantau stabil, di antaranya daging sapi paha belakang yang masih di level Rp 149.000 per kg, telur ayam ras Rp 28.539 per kg, serta bawang putih honan yang bertahan di harga Rp 35.182 per kg.
Untuk kategori minyak goreng, harga minyak goreng sawit kemasan premium tercatat Rp 21.348 per liter, minyak goreng curah Rp 19.130 per liter, dan Minyakita Rp 15.694 per liter. Gula pasir curah juga tidak beranjak dari posisi Rp 18.030 per kg.
Komoditas lain yang harganya tetap antara lain kedelai impor di angka Rp 12.508 per kg dan tepung terigu Rp 12.492 per kg.
Pemantauan harga ini dilakukan pemerintah sebagai bagian dari upaya mengendalikan inflasi dan menjaga stabilitas pasokan pangan di daerah. Fluktuasi harga cabai dan bawang menjadi perhatian utama karena kedua komoditas tersebut kerap menjadi penyumbang inflasi terbesar di Provinsi Jambi.