SAROLANGUN — Daya beli masyarakat Kabupaten Sarolangun perlahan menguat. Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pekan ini, rata-rata pengeluaran warga mencapai Rp 1,38 juta per orang setiap bulannya pada 2025.
Kenaikan ini menjadi sinyal positif bagi perputaran ekonomi lokal. Meski begitu, komposisi belanja rumah tangga masih didominasi kebutuhan pokok, yang dalam ilmu ekonomi kerap menjadi indikator tingkat kesejahteraan.
Belanja Makanan Masih Mendominasi, Apa Artinya?
Dari total pengeluaran Rp 1.379.176, warga Sarolangun membelanjakan Rp 747.383 untuk kebutuhan makanan. Sisanya, Rp 631.792, dialokasikan untuk kebutuhan bukan makanan seperti perumahan, pendidikan, dan transportasi.
Porsi belanja makanan yang mencapai 54,19 persen menunjukkan bahwa sebagian besar pendapatan masih terserap untuk memenuhi kebutuhan dasar. Hukum Engel menyebutkan, semakin tinggi pangsa pengeluaran untuk makanan, semakin rendah tingkat kesejahteraan masyarakat secara relatif.
Kondisi ini umum terjadi di daerah yang sedang bertumbuh. Ketika pendapatan meningkat, biasanya porsi belanja bukan makanan akan ikut naik seiring waktu.
Bagaimana Posisi Sarolangun di Tingkat Provinsi dan Nasional?
Dengan angka tersebut, Sarolangun menempati peringkat ke-8 dari 11 kabupaten/kota di Provinsi Jambi. Di tingkat nasional, posisinya berada di urutan ke-301 dari 514 kabupaten/kota di Indonesia.
Peringkat ini menggambarkan daya beli masyarakat Sarolangun yang masih berada di bawah beberapa daerah tetangga di Jambi. Namun, tren kenaikan yang konsisten menunjukkan adanya perbaikan ekonomi rumah tangga.
Perbandingan Pengeluaran Dua Tahun Terakhir
Data BPS mencatat tren pertumbuhan pengeluaran warga Sarolangun dalam dua tahun terakhir. Berikut rinciannya:
- Total pengeluaran 2025: Rp 1.379.176 per kapita per bulan, naik dari Rp 1.339.509 pada 2024.
- Belanja makanan 2025: Rp 747.383, atau naik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
- Belanja bukan makanan 2025: Rp 631.792, menunjukkan peningkatan aktivitas ekonomi di luar sektor pangan.
Kenaikan belanja bukan makanan menjadi catatan menarik. Ini bisa berarti masyarakat mulai mengalokasikan lebih banyak dana untuk perumahan, pendidikan, atau transportasi, yang biasanya menjadi prioritas setelah kebutuhan pangan terpenuhi.
Faktor Pendorong Kenaikan Pengeluaran
Meski BPS tidak merinci faktor spesifik di balik kenaikan ini, tren serupa di berbagai daerah biasanya dipengaruhi oleh kenaikan upah minimum, stabilitas harga pangan, serta meningkatnya aktivitas sektor informal dan perdagangan.
Sarolangun yang dikenal dengan potensi perkebunan dan pertambangannya turut berkontribusi pada perputaran uang di masyarakat. Pertumbuhan ekonomi daerah yang stabil menjadi modal utama peningkatan daya beli warga ke depan.
Pemerintah daerah diharapkan terus menjaga inflasi tetap terkendali, terutama harga bahan pokok, agar kenaikan pengeluaran ini benar-benar mencerminkan peningkatan kesejahteraan, bukan sekadar kenaikan harga.