JAMBI — Pengakuan Niles Sankey ini menambah babak baru dalam sejarah persaingan dua franchise shooter terbesar di era 2000-an. Meski Halo dan Call of Duty kerap dianggap sebagai rival berat, nyatanya Bungie justru belajar banyak dari Infinity Ward, pengembang di balik Modern Warfare.
Momen "Objective Survive" Terinspirasi Adegan Nuklir CoD4
Sankey menyebut banyak momen di Halo: Reach yang terinspirasi dari kerja brilian Infinity Ward. Yang paling menonjol adalah misi "Objective Survive" yang secara spiritual terinspirasi dari urutan adegan nuklir di Call of Duty 4: Modern Warfare.
"Kami tahu Halo lebih unggul dalam hal AI musuh dan kendaraan, tapi kami juga sadar game MW mengalahkan kami dalam aspek lain," tulis Sankey dalam cuitannya. Ia menambahkan, "Banyak momen di Reach yang terinspirasi dari karya brilian Infinity Ward, termasuk interaksi skuad Noble Team, dan 'Objective Survive' secara spiritual terinspirasi dari urutan Nuke di CoD4. Kami hanya mencoba mendorongnya satu langkah lebih jauh."
Persaingan Sengit di Balik Layar: Proyek "Halo Killer"
Kabar ini mungkin mengejutkan sebagian penggemar, mengingat Call of Duty dan Halo adalah kompetitor langsung di pertengahan 2000-an. Bahkan, Infinity Ward sempat mengembangkan prototipe game sci-fi Call of Duty yang diberi kode "HK", kependekan dari Halo Killer.
Proyek rahasia itu dirancang untuk langsung menumbangkan Halo sebagai franchise shooter terbesar di dunia, lengkap dengan alien dan teknologi canggih. Namun, kesuksesan besar Modern Warfare membuat Call of Duty mencapai puncak popularitas tanpa perlu berubah menjadi game sci-fi.
Nasib Berbeda: Infinite Warfare dan Warisan Halo: Reach
Infinity Ward akhirnya mewujudkan ambisi sci-fi mereka lewat Infinite Warfare pada 2016. Namun, hasilnya sangat berbeda dari konsep awal "HK". Game ini membuang alien dan fokus pada pertempuran luar angkasa antar manusia, yang justru menghasilkan salah satu kampanye paling dipuji dalam franchise Call of Duty.
Sementara itu, Halo: Reach menjadi game terakhir yang dikembangkan Bungie untuk seri Halo. Game ini dinilai sebagai salah satu karya terbaik studio tersebut, dengan cerita yang lebih kelam dan tragis. Keputusan Bungie untuk mengadopsi gaya bercerita dramatis ala Modern Warfare terbukti menjadi langkah cerdas yang memperkuat kualitas narasi game.
Masa Depan Halo: Kembali ke Akar yang Lebih Kelam?
Kini, lebih dari 15 tahun setelah perilisan Halo: Reach, salah satu co-creator Halo justru meminta seri ini kembali mengusung tone yang lebih gelap dan membumi. Pertanyaan besarnya adalah apakah Microsoft dan 343 Industries akan mendengarkan seruan tersebut di masa depan.
Pengakuan Sankey ini memberikan perspektif baru bagi pemain Indonesia tentang bagaimana persaingan ketat antar studio justru melahirkan inovasi dan karya-karya terbaik dalam industri game.