Pencarian

2XKO Ditutup Riot Games, Kekhawatiran MMO Baru Kian Membesar

Minggu, 23 Agustus 2026 • 10:15:01 WIB
2XKO Ditutup Riot Games, Kekhawatiran MMO Baru Kian Membesar
Riot Games mengumumkan penghentian pengembangan 2XKO setelah pendapatan game tersebut tidak mencapai target keberlanjutan.

JAMBI — Penutupan 2XKO bukan sekadar kabar buruk bagi penggemar fighting game. Bagi para pemain yang menantikan MMO Riot Games, keputusan ini menjadi sinyal peringatan bahwa sang developer mungkin tidak memiliki kesabaran untuk membangun dunia persisten yang butuh waktu bertahun-tahun untuk matang.

Riot mengumumkan penghentian pengembangan 2XKO pekan ini, menenggelamkan game fighting yang baru saja melewati masa beta itu. Sebelumnya, perusahaan sudah memecat sekitar 80 staf yang mengerjakan proyek ini kurang dari tiga minggu setelah perilisan awal.

Angka yang Berbicara: 2XKO Gagal Menarik Massa

Riot mengakui pendapatan 2XKO hanya mencapai "sebagian kecil dari yang dibutuhkan untuk tren menuju keberlanjutan." Namun pertanyaannya, apakah target tersebut realistis untuk genre fighting yang secara fundamental berbeda dari game MOBA seperti League of Legends?

Fighting game memang niche. Ambil contoh Guilty Gear: Strive, game yang dianggap sukses di genre-nya, hanya mencatat puncak 1.700 pemain bersamaan di Steam. Angka serupa juga diraih Marvel T?kon: Fighting Souls yang notabene game baru. Untuk game 1v1, populasi segini sudah cukup untuk menjaga matchmaking tetap aktif.

Tapi Riot terbiasa dengan skala League of Legends. Membandingkan angka 2XKO dengan raksasa MOBA-nya adalah perbandingan yang timpang.

MMO Butuh Waktu, Riot Butuh Hasil Cepat

Raph Koster, veteran desainer MMO yang dikenal lewat karyanya di Ultima Online dan Star Wars Galaxies, pernah menjelaskan dalam wawancara bahwa MMO modern sangat mahal untuk dioperasikan. Game seperti Final Fantasy XIV atau EVE Online tidak langsung sukses—mereka bertahan karena publisher memberi waktu bertahun-tahun untuk membangun basis pemain.

Kontras dengan itu, Riot justru menunjukkan pola "cut-and-run". Perusahaan ini sempat menghabiskan USD 250 juta (sekitar Rp 4 triliun) untuk serial Arcane, tapi enggan menahan kerugian 2XKO dalam jangka pendek. Pola pikir yang berorientasi pada hasil kuartalan ini tidak cocok dengan sifat MMO yang butuh inkubasi panjang.

Pelajaran dari New World: Sukses Awal Bukan Jaminan

Contoh nyata betapa brutalnya pasar MMO adalah New World dari Amazon Games. Game ini sempat menembus 10.000 pemain bersamaan di akhir 2025—angka yang secara standar live service terbilang sehat. Namun Amazon tetap menganggapnya gagal dan menghentikan dukungan besar-besaran.

Jika standar keberhasilan MMO setinggi itu, bagaimana Riot akan menilai game MMO-nya sendiri yang masih diselimuti misteri? Belum ada detail konkret soal judul, tanggal rilis, atau mekanisme gameplay yang dijanjikan.

Apa yang Bisa Dipelajari Komunitas Indonesia?

Untuk gamer Indonesia yang sudah menantikan MMO Riot sejak diumumkan beberapa tahun lalu, kabar ini tentu mengecewakan. Komunitas fighting game lokal yang sempat antusias mencoba 2XKO di beta juga harus mengubur harapan melihat scene kompetitifnya berkembang.

Satu-satunya hal yang bisa dilakukan sekarang adalah menunggu. Jika Riot benar-benar serius dengan MMO-nya, mereka harus membuktikan bahwa 2XKO hanyalah kasus outlier—bukan pola baru dalam pengambilan keputusan perusahaan. Jika tidak, proyek MMO yang sudah diumumkan sejak 2020 itu bisa bernasib sama: tenggelam sebelum sempat berlayar.

Follow www.halojambi.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: pcgamer.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks