MUARO JAMBI — Kondisi lahan kering di Pulau Mentaro membuat potensi api kembali menyala setelah proses pemadaman masih tinggi. Hal ini yang mendorong Danrem 042/Gapu Brigjen TNI Nyamin dan Gubernur Jambi Al Haris untuk kembali meninjau langsung titik-titik kebakaran di kawasan perbatasan Puding-Kumpeh, Selasa (1/9).
Kehadiran dua pimpinan tertinggi di wilayah tersebut menjadi sinyal bahwa penanganan karhutla tidak hanya soal memadamkan api, tetapi juga bagaimana mengendalikan kondisi lahan yang rawan terbakar.
Operasi Pendinginan Masih Berlangsung di Lahan Kering
Di lokasi, Brigjen TNI Nyamin dan Al Haris memantau langsung kondisi lahan yang terdampak serta proses penanganan yang dilakukan personel gabungan. Mereka memastikan titik api tidak berkembang sebelum tim pemadam tiba di lokasi.
Personel dari TNI-Polri, Manggala Agni, dan unsur terkait lainnya terus melakukan pemadaman serta pendinginan. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api yang kerap terjadi di lahan gambut dan semak kering.
Sinergi TNI-Pemda Jadi Kunci Percepatan Penanganan
Brigjen TNI Nyamin menegaskan bahwa penanganan karhutla menuntut kecepatan dan kebersamaan semua pihak. Setiap titik api yang muncul harus segera ditangani agar tidak meluas ke area yang lebih besar.
“Kita harus bergerak cepat dan bersama-sama. Setiap titik api harus segera ditangani, jangan sampai berkembang dan meluas. Sinergi seluruh unsur menjadi kunci dalam penanganan karhutla,” tegas Brigjen TNI Nyamin di sela peninjauan.
Apa Langkah Lanjutan Satgas Karhutla?
Seluruh personel di lapangan diminta melakukan patroli dan pemantauan secara berkesinambungan. Pemadaman awal dinilai tidak cukup tanpa diikuti pendinginan dan pengawasan pasca-pemadaman.
Kondisi lahan yang kering menjadi perhatian utama. Personel diinstruksikan untuk waspada terhadap kemungkinan api yang kembali menyala setelah proses pemadaman dilakukan, terutama pada sore hingga malam hari saat angin bertiup lebih kencang.