Pencarian

Kawah Ijen Tutup Akibat Kebakaran Hutan, Pakar: Destinasi Wisata Butuh Standar Keselamatan

Sabtu, 05 September 2026 • 12:51:02 WIB
Kawah Ijen Tutup Akibat Kebakaran Hutan, Pakar: Destinasi Wisata Butuh Standar Keselamatan
Kawah Ijen di Banyuwangi ditutup sementara akibat kebakaran hutan yang melanda kawasan wisata tersebut.

JAMBI — Kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah kawasan wisata di Indonesia telah memaksa destinasi populer seperti Kawah Ijen di Banyuwangi, Jawa Timur, untuk ditutup sementara. Peristiwa yang terjadi pekan ini ini bukan hanya soal kerugian materi atau pemandangan yang rusak, melainkan juga pukulan telak bagi denyut ekonomi masyarakat lokal yang bergantung pada kunjungan wisatawan.

Dosen Universitas Indonesia, Deni Danial Kesa, MBA, Ph.D, mengamati persoalan ini dari sudut pandang yang lebih fundamental. Menurutnya, insiden kebakaran seperti ini merupakan alarm bagi industri pariwisata nasional untuk segera berbenah, terutama dalam hal tata kelola risiko dan keselamatan destinasi.

Lebih dari Sekadar Tempat Berfoto

Deni menegaskan bahwa sebuah destinasi wisata bukanlah sekadar lokasi untuk berfoto atau mengejar jumlah kunjungan semata. Di balik keindahan alamnya, terdapat ekosistem ekonomi yang hidup: masyarakat setempat, pekerja harian, pelaku UMKM, pemandu wisata, hingga pengelola penginapan yang menggantungkan nasib pada ramainya pengunjung.

Ketika sebuah kawasan wisata dilanda bencana seperti kebakaran, dampaknya langsung terasa ke seluruh rantai ekonomi tersebut. Destinasi yang tidak aman bukan hanya membahayakan keselamatan wisatawan, tetapi juga menghancurkan mata pencaharian warga dan mencoreng reputasi pariwisata Indonesia di mata dunia.

Konsep 5A+R: Menambahkan Standar Keselamatan

Selama ini, pembangunan pariwisata Indonesia dikenal kuat dengan konsep 4A, yaitu Atraksi, Aksesibilitas, Amenitas (fasilitas), dan Aktivitas. Namun, Deni menilai sudah saatnya konsep ini diperluas dengan menambahkan komponen krusial yang selama ini terabaikan.

"Indonesia selama ini sangat kuat dalam membangun destinasi berkonsep 4A. Tetapi perlu ditambahkan satu komponen yang sangat penting, safety dan resilience, sehingga konsep destinasi dapat dikembangkan menjadi 5A+R," ujar Deni kepada detikTravel, Jumat (4/9/2026).

Artinya, sebuah destinasi tidak cukup hanya menarik untuk dikunjungi. Wisatawan juga harus merasa aman dan nyaman selama berada di area wisata. Di sisi lain, pengelola dan masyarakat setempat wajib memiliki kapasitas untuk menghadapi bencana serta kemampuan untuk memulihkan diri setelah krisis terjadi.

Menggeser Fokus dari Kuantitas ke Kesiapan

Risiko yang mengintai sebuah destinasi tidak datang dari satu sumber saja. Faktor iklim yang ekstrem, musim kering yang berkepanjangan, material bangunan yang mudah terbakar, instalasi listrik yang tidak terawat, hingga perilaku manusia yang lalai, semuanya merupakan bagian dari teka-teki yang perlu diantisipasi sejak dini.

Kemampuan untuk bangkit setelah bencana menjadi bagian yang sama pentingnya. Destinasi wisata yang tangguh bukan berarti tidak pernah mengalami masalah. Justru, ketangguhan itu diukur dari kesiapan untuk merespons secara cepat dan efektif, serta memulihkan kondisi ketika bencana terjadi.

Menurut Deni, pembangunan pariwisata ke depan harus bergeser paradigma. Fokusnya tidak lagi sekadar mengejar pembukaan destinasi baru yang instan, tetapi lebih pada memastikan bahwa destinasi yang telah dipromosikan kepada wisatawan benar-benar siap, aman, dan memiliki sistem ketahanan yang kuat. Dengan begitu, peristiwa kebakaran hutan tidak hanya menjadi cerita duka, melainkan pelajaran berharga untuk membangun industri pariwisata yang lebih berkelanjutan dan bertanggung jawab.

Follow www.halojambi.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: travel.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks