JAMBI — Ambisi Arsenal mencatat sejarah baru sebagai juara Liga Champions kandas. Tim asal London Utara itu harus mengakui keunggulan PSG dalam drama adu penalti setelah bermain imbang 1-1 sepanjang 120 menit.
Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi skuad asuhan Mikel Arteta. Sebelumnya, mereka sukses memutus puasa gelar Liga Inggris selama 22 tahun. Namun di pentas Eropa, Arteta sadar timnya belum berada di level yang sama dengan raksasa Prancis itu.
Pujian Arteta untuk PSG dan Luis Enrique
Usai pertandingan, Arteta tidak segan memberikan pujian setinggi langit kepada sang rival. Ia secara spesifik menyebut kompatriotnya, Luis Enrique, sebagai arsitek di balik permainan gemilang PSG.
"Saya mengucapkan selamat kepada PSG, khususnya Luis (Enrique), karena menurut saya mereka adalah tim terbaik di dunia," ujar Arteta, dilansir dari TNT Sports.
Pelatih asal Spanyol itu menambahkan, kualitas individu dan penguasaan bola PSG berada di level yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Taktik Arsenal tidak berjalan bukan karena salah strategi, melainkan karena kehebatan PSG memaksa timnya terus bertahan.
Dominasi PSG: Penguasaan Bola di Bawah 25 Persen
Statistik pertandingan membenarkan pengakuan Arteta. Arsenal terkurung sepanjang laga dengan penguasaan bola di bawah 25 persen akibat gempuran tanpa henti dari lini tengah PSG.
Arsenal sempat unggul lewat gol cepat Kai Havertz. Namun PSG menyamakan kedudukan di babak kedua melalui eksekusi penalti Ousmane Dembele. Gol itu sekaligus membawa PSG menyamai rekor fantastis: 45 gol dalam satu musim Liga Champions.
Insiden Penalti Madueke dan Pekerjaan Rumah Arsenal
Arteta sempat menyayangkan keputusan wasit yang tidak memberikan penalti saat Noni Madueke dijatuhkan di area terlarang ketika skor masih 1-1. Meski demikian, ia memilih legawa dan langsung fokus pada evaluasi tim.
Final edisi 2026 ini merupakan kali kedua Arsenal menembus partai puncak Liga Champions, setelah kegagalan pertama 20 tahun silam saat ditumbangkan Barcelona. Arteta sadar, kompetisi Eropa menuntut level yang jauh lebih tinggi dibandingkan domestik.
"Perkembangan yang kami alami dalam beberapa tahun terakhir harus kami ulangi lagi karena level kompetisi meningkat setiap musim," pungkas Arteta.