Kepergian dua eksekutif papan atas ini pertama kali dilaporkan oleh The Game Business. Duncan baru setahun lebih menjabat sebagai kepala Xbox Game Studios—posisi yang membawahi studio-studio besar seperti Halo Studios, Obsidian, Playground Games, dan The Coalition. Sebelumnya, ia memimpin Rare, pengembang Sea of Thieves, selama hampir 13 tahun.
O'Connor, yang juga berasal dari Rare, mengundurkan diri dari posisi chief of staff yang baru diembannya sejak Agustus tahun lalu. Ia bergabung dengan Rare sejak 1999 sebagai animator. Keduanya hengkang di saat yang kritis bagi divisi gaming Microsoft.
“Over Extended” dan Ancaman PHK Massal
Pekan lalu, pimpinan baru Xbox—Asha Sharma dan Matt Booty—yang mengambil alih setelah Phil Spencer pensiun awal tahun ini, mengirimkan surat terbuka. Isinya gamblang: akuisisi studio yang masif selama beberapa tahun terakhir membuat Xbox "over extended" atau kelebihan beban.
Bloomberg melaporkan bahwa "PHK signifikan" sedang direncanakan. Kabar yang beredar menyebutkan Compulsion Games, pengembang We Happy Few, menjadi kandidat pertama yang akan ditutup. Studio lain seperti Double Fine dan Ninja Theory juga disebut berada dalam posisi berisiko tinggi.
Gelombang PHK yang Tak Kunjung Usai
Ini bukan pertama kalinya Microsoft melakukan perampingan di sektor gim. Tahun lalu, perusahaan memangkas 1.900 karyawan dari divisi gaming, termasuk menutup Tango Gameworks, studio di balik Hi-Fi Rush. Langkah itu menuai kritik keras dari komunitas pengembang dan gamer.
Kali ini, skenarionya tampak lebih sistematis. "Reset" yang dimaksud Sharma dan Booty kemungkinan besar adalah restrukturisasi total portofolio studio—bukan sekadar efisiensi anggaran. Microsoft sejauh ini belum memberikan tanggapan resmi atas laporan pengunduran diri Duncan dan O'Connor.
Apa Artinya bagi Gamer Indonesia?
Bagi pemain Xbox di Indonesia, dampaknya mungkin tidak langsung terasa dalam waktu dekat. Namun, penutupan studio seperti Compulsion Games atau Ninja Theory berarti proyek-proyek potensial yang tengah dikerjakan bisa dibatalkan. Ini mengurangi variasi gim eksklusif yang bisa dinikmati pelanggan Game Pass.
Xbox Game Pass adalah layanan berlangganan yang cukup populer di Indonesia karena menawarkan akses ke ratusan gim dengan biaya bulanan terjangkau. Jika Microsoft terus memangkas jumlah studio, pasokan gim baru di layanan itu bisa melambat—dan itu kabar buruk bagi konsumen setia.
Masa Depan Xbox di Tangan Sharma dan Booty
Asha Sharma dan Matt Booty kini memegang kendali penuh. Sharma sebelumnya menjabat sebagai chief operating officer, sementara Booty adalah veteran Microsoft yang memimpin divisi konten gim. Keduanya harus membuktikan bahwa "reset" bukanlah eufemisme dari pembongkaran.
Keputusan-keputusan dalam beberapa bulan ke depan akan menentukan apakah Xbox tetap menjadi kekuatan utama di industri gim global—atau justru menyusut menjadi sekadar platform layanan tanpa identitas studio yang kuat.