MUARO JAMBI — Antrean kendaraan, terutama truk angkutan barang, mengular hingga memakan badan jalan di ruas Jalan Lintas Timur Sumatera. Kondisi ini tidak hanya memicu kemacetan, tetapi juga dinilai membahayakan pengguna jalan lain di jalur penghubung antarprovinsi tersebut.
Para sopir mengaku harus menunggu berjam-jam, bahkan hingga malam hari, untuk mendapatkan biosolar. Jika kelangkaan terus berlanjut, distribusi logistik dikhawatirkan terganggu dan berimbas pada keterlambatan pengiriman barang ke berbagai daerah di Sumatera.
Pasokan Harian Hanya Bertahan 8–10 Jam
Berdasarkan data dari sejumlah SPBU di Muaro Jambi, pasokan biosolar yang diterima setiap hari berkisar antara 8 hingga 16 ton. Jumlah tersebut hanya mampu memenuhi kebutuhan selama sekitar 8 hingga 10 jam sebelum stok kembali habis.
Ketua DPRD Muaro Jambi, Aidi Hatta, mengatakan keterbatasan kuota pasokan biosolar dinilai tidak lagi sebanding dengan kebutuhan masyarakat dan pelaku usaha transportasi. Menurut dia, Muaro Jambi merupakan salah satu jalur utama yang dilalui kendaraan angkutan barang dari berbagai daerah di Sumatera sehingga kebutuhan solar relatif tinggi.
DPRD Minta Tambahan Kuota dan Pengawasan Ketat
"Kami meminta pihak terkait untuk menambah kuota pasokan biosolar agar kebutuhan masyarakat dan sektor transportasi dapat terpenuhi. Jangan sampai kelangkaan ini mengganggu distribusi logistik yang menjadi urat nadi perekonomian," kata Aidi.
Selain itu, DPRD juga meminta Dinas Perhubungan untuk mengatur arus lalu lintas di sekitar SPBU guna mengurangi dampak kemacetan. Pengawasan terhadap distribusi BBM subsidi juga perlu diperketat untuk mencegah praktik penimbunan maupun penyalahgunaan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Kelangkaan Merata di Hampir Seluruh Wilayah
Kelangkaan biosolar saat ini dilaporkan terjadi di hampir seluruh wilayah Kabupaten Muaro Jambi. Pemerintah daerah berharap penambahan pasokan dapat segera dilakukan untuk menjaga kelancaran aktivitas transportasi dan distribusi barang di jalur strategis Sumatera.