JAMBI — Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus Kepala BPI Danantara, Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa pihaknya menjalani sesi diskusi yang ketat dengan investor asing sebelum penerbitan obligasi senilai US$1,5 miliar. Proses ini berlangsung dalam rangkaian roadshow yang digelar sejak 3 Juni lalu di lima kota besar dunia: Hong Kong, Singapura, Boston, London, dan New York.
Proses Uji Tuntas Investor: Tanya Jawab 'Sangat Kenceng'
Rosan menyebut para investor tidak langsung menyetujui pembelian obligasi. Mereka justru mengajukan pertanyaan mendalam terkait kebijakan, tata kelola, dan arah investasi Danantara. "Memang tanya jawabnya kenceng, tanya jawabnya sangat kenceng," kata Rosan di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin (15/7).
Menurut Rosan, sebagian investor sebelumnya memiliki keraguan terhadap prospek ekonomi Indonesia dan arah kebijakan pemerintah. Namun, setelah mendapatkan penjelasan langsung dari tim Danantara, persepsi mereka perlahan berubah menjadi positif. Tim Danantara tercatat menemui sekitar 122 investor selama rangkaian roadshow tersebut.
Target Terlampaui: Dari US$1 Miliar Menjadi US$1,5 Miliar
Setelah roadshow, Danantara melakukan book building atau pengumpulan minat pembelian. Hasilnya, permintaan yang masuk mencapai US$4,6 miliar, jauh melampaui target awal US$1 miliar. Lonjakan permintaan ini mendorong Danantara menaikkan nilai penerbitan obligasi menjadi US$1,5 miliar.
Obligasi tersebut diterbitkan dalam dua tenor dengan nilai masing-masing US$750 juta. Tenor lima tahun memiliki imbal hasil atau yield sebesar 5,35 persen, sedangkan tenor sepuluh tahun sebesar 5,95 persen. Semakin tinggi yield, semakin besar risiko yang dipersepsikan investor terhadap surat utang tersebut.
Kredibilitas di Mata Pasar Global
Rosan menilai tingginya permintaan dan realisasi penerbitan obligasi ini sebagai bukti kredibilitas Danantara di mata investor global. Ia menekankan bahwa keterbukaan, transparansi, tata kelola, dan akuntabilitas menjadi prinsip utama yang dijaga Danantara saat berkomunikasi dengan pasar. "Hasil ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap Indonesia masih ada dan tetap tinggi," ujar Rosan.
Keberhasilan ini menjadi sinyal positif bagi pemerintah di tengah upaya Danantara untuk menggalang dana segar guna mendanai berbagai proyek investasi strategis nasional. Penerbitan obligasi ini merupakan langkah perdana Danantara di pasar modal internasional setelah lembaga tersebut resmi beroperasi.