Pencarian

Rupiah Menguat 0,47 Persen ke Rp17.679, Data Tenaga Kerja AS Picu Spekulasi Pangkas Suku Bunga The Fed

Kamis, 03 September 2026 • 20:44:31 WIB
Rupiah Menguat 0,47 Persen ke Rp17.679, Data Tenaga Kerja AS Picu Spekulasi Pangkas Suku Bunga The Fed
Rupiah ditutup menguat 84 poin ke level Rp17.679 per dolar AS pada perdagangan Kamis.

Nilai tukar rupiah ditutup menguat 84 poin menjadi Rp17.679 per dolar AS pada Kamis. Penguatan ini dipicu data ketenagakerjaan swasta Amerika Serikat yang meleset dari estimasi, sehingga meredupkan prospek dolar dan mendorong spekulasi pelonggaran moneter The Fed.

JAKARTA — Rupiah menguat 84 poin atau 0,47 persen ke level Rp17.679 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis. Posisi ini membaik dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.763 per dolar AS. Pelemahan dolar AS membuka ruang bagi mata uang Asia untuk bangkit.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, menyebut laporan ADP Employment Change sebagai katalis utama pergerakan hari ini. Data menunjukkan sektor swasta AS menambah 38 ribu pekerja pada Agustus. Realisasi ini di bawah estimasi pasar sebesar 47 ribu dan kenaikan bulan sebelumnya yang mencapai 46 ribu.

Data Mengecewakan Memperkuat Spekulasi Pangkas Bunga

Amru menjelaskan angka yang meleset tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan melonggarkan kebijakan moneternya dalam waktu dekat.

“Data ketenagakerjaan swasta AS lebih lemah dari perkiraan, sehingga ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga The Fed kembali menjadi perhatian,” ujarnya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.

Harga Minyak Terkoreksi, Konflik AS-Iran Belum Dominan

Selain data tenaga kerja, harga minyak mentah yang terkoreksi dari level tertingginya turut meredakan tekanan pada mata uang kawasan. Amru menilai sentimen negatif dari eskalasi konflik AS-Iran belum menjadi faktor dominan dalam pergerakan rupiah.

Konflik tersebut memang meningkatkan ketidakpastian dan berpotensi mendongkrak harga minyak. Namun, dolar AS justru terkoreksi dengan indeks DXY yang melemah ke area 99,27, memberi ruang bagi rupiah dan mata uang Asia lainnya untuk terapresiasi.

“Dengan demikian, penguatan rupiah pada Kamis lebih mencerminkan pelemahan dolar AS dan perubahan ekspektasi terhadap suku bunga AS, sementara risiko dari konflik AS-Iran tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan,” kata Amru.

JISDOR Ikut Terkoreksi, Sektor Industri Bernapas

Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga mencatat penguatan. Pada hari yang sama, JISDOR berada di level Rp17.689 per dolar AS, turun dari posisi sebelumnya Rp17.770 per dolar AS.

Penguatan nilai tukar ini dinilai dapat sedikit meredam tekanan biaya impor bahan baku dan energi bagi sektor industri. Namun, dampaknya baru akan terasa dalam beberapa pekan ke depan seiring kontrak pembelian dan distribusi barang.

Follow www.halojambi.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: jambi.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks