TANJAB BARAT — Upaya pemadaman kebakaran lahan di kebun pinang Desa Muntialo, Kecamatan Betara, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi, terkendala kondisi kanal yang dangkal. Air yang tersedia di kanal berjarak 200-300 meter dari titik api, menyulitkan petugas dalam proses pendinginan lahan.
Kepala Daerah Operasi (Daops) Manggala Agni Sumatera XI/Bukit Tempurung, Sandy Prabowo, menyebut kedalaman kanal di lokasi kejadian hanya sekitar 30 sentimeter dengan lebar tiga meter. Kondisi ini membuat pasokan air untuk pemadaman tidak maksimal.
"Sumber air berupa kanal, namun dangkal," kata Sandy Prabowo, Sabtu (22/8/2026).
Jenis Lahan Gambut Dangkal dan Batang Pinang Tumbang
Berdasarkan laporan petugas di lapangan, lahan yang terbakar merupakan jenis semi gambut dengan kedalaman kurang lebih satu meter. Kondisi ini mengakibatkan kebakaran terjadi di bawah permukaan tanah sehingga proses pemadaman harus dilakukan secara ekstra hati-hati.
Selain itu, sejumlah batang pinang di lokasi dilaporkan tumbang akibat terbakar. Hal ini menambah risiko bagi tim pemadam yang tengah menyisir area terdampak.
"Target hari ini (hari ketiga), tim gabungan menyisir sisi kiri dan kanan areal yang berasap dan asap yang di tunggul," ujarnya.
Peralatan yang Dikerahkan dan Estimasi Luas Lahan
Untuk menjinakkan api, petugas menurunkan tiga unit ministrike, dua unit mesin robin, serta 35 roll selang dengan panjang masing-masing 30 meter. Seluruh peralatan difokuskan untuk memadamkan titik api yang masih menyala di area perkebunan.
Luasan lahan yang terbakar saat ini masih merupakan estimasi sementara berdasarkan informasi masyarakat yang ikut membantu proses pemadaman. Pendataan lebih akurat akan dilakukan menggunakan analisis citra satelit oleh Kementerian Kehutanan.
"Luasan estimasi kurang lebih 2,5 hektare, info masyarakat yang bantu tim pemadaman saat ini. Secara akurat luasan nanti akan dihitung menggunakan analisis citra satelit oleh Kemenhut," kata Sandy.
Kebakaran yang melanda kawasan perkebunan pinang ini pertama kali terdeteksi pada Kamis (20/8/2026). Tim gabungan dari berbagai instansi terus berupaya melakukan pembasahan di sejumlah titik yang masih berpotensi memunculkan api baru, terutama pada area gambut yang sulit terlihat dari permukaan.